LAMPUNG, Nusantara Media – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, terus mendapat pengawasan ekstra ketat dari otoritas terkait. Hingga hari ini, Kamis, 30 Juli 2026,

status gunung berapi yang sarat akan sejarah letusan dahsyat tersebut masih berada pada Tingkat Aktivitas Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan diminta secara tegas untuk mematuhi rekomendasi batas zona bahaya.

Berdasarkan laporan resmi pengamatan visual dan kegempaan terbaru untuk periode pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, gunung api dengan ketinggian 157 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini terus menunjukkan gejolak di bawah permukaan.

- Advertisement -

Kondisi fluktuatif ini menjadi peringatan penting bagi siapa saja yang berencana melakukan pelayaran atau aktivitas rekreasi di sekitar perairan Selat Sunda.

Secara meteorologis, cuaca di sekitar area Gunung Anak Krakatau pada sore hari dilaporkan berawan dengan kondisi ombak laut yang terbilang tenang. Angin terpantau bertiup dari intensitas lemah hingga sedang menuju ke arah utara dan barat laut.

Adapun suhu udara di sekitar lokasi berkisar antara 31 hingga 33 derajat Celcius dengan tingkat kelembaban udara yang cukup tinggi, yakni menyentuh angka 73 hingga 90 persen.

Dari segi pengamatan visual, bentuk fisik gunung berapi terlihat cukup jelas meski sesekali tertutup oleh kabut dengan tingkat ketebalan 0-III. Pada periode pengamatan sore ini, kawah utama Gunung Anak Krakatau tampak melepaskan asap putih yang bertekanan lemah.

Asap kawah tersebut terlihat tipis dan membumbung dengan ketinggian bervariasi antara 10 hingga 50 meter di atas puncak kawah. Hembusan asap ini menjadi penanda visual nyata bahwa aktivitas pelepasan gas vulkanik masih terus berlangsung di pusat erupsi.

Sementara itu, data kegempaan yang terekam oleh jaringan seismograf menunjukkan indikasi pergerakan magma yang tidak boleh diremehkan. Petugas mencatat setidaknya ada satu kali gempa Low Frequency (Frekuensi Rendah) dengan amplitudo 7 milimeter dan durasi selama 5 detik.

Selain itu, terekam juga satu kali gempa Hybrid atau Fase Banyak dengan amplitudo 8 milimeter dan durasi 10 detik.

Hal yang paling patut menjadi perhatian adalah terekamnya getaran Tremor Menerus (Microtremor). Tremor ini tercatat memiliki amplitudo berkisar antara 0,5 hingga 2 milimeter, dengan nilai dominan pada angka 1 milimeter.

Kehadiran tremor menerus ini mengindikasikan adanya suplai energi atau pergerakan fluida seperti magma dan gas di bawah permukaan kawah yang masih terus terjadi tanpa henti.

Merespons kondisi yang belum sepenuhnya stabil tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan kembali rekomendasi krusial bagi publik. Peringatan ini ditujukan agar tidak timbul korban jiwa jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan aktivitas secara tiba-tiba.

"Masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas apa pun dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif," tulis imbauan dalam laporan pengamatan tersebut.

Peringatan radius aman 3 kilometer ini mutlak harus dipatuhi untuk menghindari potensi bahaya tak terduga seperti erupsi freatik, lontaran material vulkanik pijar, maupun paparan awan dan gas beracun mematikan.

Nelayan, kapal kargo, dan pelaku wisata bahari di sekitar pesisir Banten dan Lampung diimbau untuk selalu waspada dan secara berkala memperbarui informasi dari sumber-sumber resmi terkait perkembangan status Gunung Anak Krakatau.