SERANG, Nusantara Media  – Memperingati momentum World Rhino Day atau Hari Badak Sedunia yang jatuh pada bulan September, Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) menggelar konferensi pers di Hotel Aston, Serang, Banten, pada Kamis (24/9/2026). Dalam acara tersebut, Kepala Balai TNUK, Ardi Andono, S.TP., M.Sc., menegaskan kembali komitmen negara dalam menjaga kelestarian Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), satwa paling langka di dunia yang kini rumah terakhirnya hanya tersisa di Ujung Kulon, Indonesia.

Mengusung tema "Cinta Badak, Cinta Indonesia: Bersama Menjaga Rumah Terakhir Badak Jawa", Ardi Andono memaparkan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) TNUK periode 2026–2035. Salah satu sorotan utama dalam RPJP tersebut adalah pematangan rencana translokasi Badak Jawa guna memitigasi risiko kepunahan dan memastikan pertumbuhan populasi yang sehat di masa depan.

"Sebagai satu-satunya negara yang masih menjadi habitat alami Badak Jawa, Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan keberlangsungan spesies ini melalui perlindungan habitat, pengelolaan populasi, serta perkuatan upaya konservasi yang berkelanjutan," tegas Ardi Andono di hadapan awak media.

- Advertisement -
Advertisement

 Di tengah tantangan konservasi yang berat, Ardi membawa kabar menggembirakan. Ia mengungkapkan bahwa pada 29 Januari 2026 lalu, telah tercatat kembali kelahiran satu individu anak Badak Jawa di kawasan TNUK. Kelahiran alami ini membuktikan bahwa ekosistem Ujung Kulon masih menjadi ruang tumbuh kembang yang baik bagi satwa endemik tersebut.

Namun, untuk menghindari risiko penyakit, bencana alam, atau inbreeding (perkawinan sedarah) di satu lokasi yang sama, TNUK terus mematangkan fasilitas Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA). Fasilitas ini disiapkan sebagai sarana utama untuk mendukung pengelolaan dan program translokasi Badak Jawa ke depannya.

"JRSCA berada di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, sehingga upaya pengelolaan populasi melalui translokasi ini tetap dilakukan dalam satu kesatuan kawasan konservasi TNUK. Langkah ini membutuhkan perencanaan matang, kajian ilmiah, pengamanan habitat, kesiapan sarana prasarana, dan dukungan tenaga ahli," jelas Ardi.

 Lebih lanjut, Kepala Balai TNUK Labuan menyoroti keberhasilan luar biasa dalam mengamankan habitat Badak Jawa, yakni tercapainya kondisi zero poaching (nol perburuan liar). Keberhasilan ini dinilai sebagai fondasi terpenting sebelum program translokasi dapat dieksekusi secara masif.

Baca Juga Kodim 0509/Kabupaten Bekasi Gelar Malam Ramah Tamah, Dandim Baru Siap Lanjutkan Sinergi Daerah

Meski demikian, Ardi Andono menekankan bahwa konservasi Badak Jawa bukan hanya tugas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) atau Balai TNUK semata. Kesuksesan pelestarian ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang komprehensif.

"Kami membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya. Dukungan untuk translokasi bukan sekadar memindahkan satwa, melainkan bagian dari investasi konservasi jangka panjang. Kami mengajak Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, TNI, Polri, dunia usaha, akademisi, lembaga konservasi, media, hingga generasi muda seperti Saka Wanabakti dan Formapak untuk turut ambil peran," serunya.

Menutup konferensi pers, Ardi Andono menyampaikan sebuah pantun sarat makna yang mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu padu menyelamatkan harta karun keanekaragaman hayati kebanggaan Indonesia tersebut.

"Badak bukan sembarang badak, Badak Jawa pintar berlari. Mari kita padu dan kompak, agar Badak Jawa tetap lestari," tutupnya yang disambut riuh tepuk tangan peserta.