MotoGP, Nusantara Media - Debutan Toprak Razgatlioglu menghadapi tantangan unik saat menjalani debut MotoGP 2026 di Thailand, yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan, sekaligus periode adaptasi krusial bersama Pramac Yamaha.
Juara World Superbike tiga kali itu menjadi satu-satunya pembalap Muslim di grid MotoGP musim ini. Ia mengungkapkan sempat menjalankan ibadah puasa di awal Ramadan, namun menyesuaikan pola konsumsi menjelang akhir pekan balapan demi menjaga kondisi fisik.
“Di awal saya menjalankan puasa, tapi setelah kami mulai mengendarai motor, saya butuh energi,” ujarnya.
“Sekarang saya mulai makan dan minum lagi karena besok kami mulai balapan. Setelah kembali ke Turki, saya akan melanjutkan Ramadan lagi.”
Keputusan tersebut mencerminkan keseimbangan antara tuntutan profesional dan praktik keagamaan, mengingat intensitas fisik MotoGP yang sangat tinggi, terutama dalam kondisi suhu panas seperti di Buriram.
Dari sisi teknis, Razgatlioglu masih berada dalam fase adaptasi terhadap motor Yamaha dan ban Michelin, yang memiliki karakter berbeda signifikan dibandingkan pengalaman sebelumnya di World Superbike dengan ban Pirelli. Ia bahkan mengakui masih kesulitan membangun kepercayaan pada bagian depan motor.
Meski ekspektasi hasil di seri pembuka relatif rendah, pembalap asal Turki itu tetap menilai debut MotoGP sebagai pencapaian penting dalam kariernya.
“Saya sangat senang bisa menjadi pembalap MotoGP. Ini mimpi yang menjadi kenyataan,” katanya.
Ia juga menyoroti besarnya perbedaan level kompetisi dibandingkan World Superbike, baik dari sisi teknis maupun eksposur global.
“Saya melihat banyak kamera di sini, perbedaannya sangat besar dibanding Superbike.”
Analisis
Debut Razgatlioglu di MotoGP berlangsung dalam konteks yang kompleks, menggabungkan faktor fisik, teknis, dan mental. Adaptasi terhadap motor prototipe, ban Michelin, serta karakteristik pengereman dan grip depan menjadi tantangan utama dalam jangka pendek.
Di sisi lain, aspek fisik menjadi krusial karena bertepatan dengan Ramadan. Keputusan untuk tidak berpuasa selama akhir pekan balapan menunjukkan pendekatan pragmatis demi menjaga performa, sesuatu yang juga lazim di olahraga elit dengan tuntutan ekstrem.
Secara strategis, Yamaha melihat Razgatlioglu sebagai aset jangka menengah, khususnya untuk pengembangan motor menuju era 2027. Pengalamannya dengan karakter ban berbeda berpotensi memberikan perspektif tambahan dalam proses development.
Namun, dalam jangka pendek, performa di Thailand kemungkinan masih terbatas pada fase pembelajaran. Fokus utama bukan hasil instan, melainkan akumulasi data dan peningkatan kepercayaan diri terhadap paket motor.
Seri-seri awal musim akan menjadi indikator penting untuk menilai kecepatan adaptasi Razgatlioglu, terutama dalam aspek front-end confidence yang selama ini menjadi titik kritis bagi pembalap yang bertransisi dari World Superbike ke MotoGP.
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!