Pandeglang, Nusantara Media – Kabupaten Pandeglang menjadi pusat perhatian nasional dengan keberhasilan pilot project budidaya padi organik varietas PS-08. Panen raya perdana ini tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga mendukung program ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto.

Panen raya perdana padi organik varietas PS-08 berskala nasional digelar sebagai pilot project sukses budidaya padi unggul. Acara ini melibatkan kolaborasi antara kelompok tani (Poktan), Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, pemerintah daerah, dan Brigade Pangan Bhakti Bela Negara dari Yayasan Bhakti Bela Negara (YBBN). Inisiatif ini merayakan keberhasilan produksi padi organik yang mendukung ketahanan pangan dan swasembada pangan nasional, sesuai dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Dipusatkan di Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Daerah ini termasuk lahan pesisir ekstrem seperti Pantai Carita, yang rentan terhadap angin kencang dan banjir rob. Kecamatan Carita sendiri merupakan salah satu dari 16 kecamatan lumbung padi di Kabupaten Pandeglang.

Panen raya perdana ini digelar hari ini, menandai momentum awal tahun 2026 untuk program ketahanan pangan nasional.

Para pihak utama meliputi petani lokal dari kelompok tani di Kecamatan Carita, Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, pemerintah daerah Provinsi Banten, serta Yayasan Bhakti Bela Negara (YBBN) melalui Brigade Pangan Bhakti Bela Negara. Program ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia.

Keberhasilan ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan nasional melalui inovasi budidaya padi organik yang berkelanjutan. Varietas PS-08 dipilih karena keunggulannya dalam menekan biaya produksi, meningkatkan pendapatan petani, dan tahan terhadap tantangan lingkungan. Inisiatif ini merupakan bentuk bela negara di sektor pertanian, mendukung swasembada pangan dan visi Indonesia Emas 2045.

Budidaya PS-08 dilakukan dengan pendampingan intensif dari hulu hingga hilir oleh Brigade Pangan Bhakti Bela Negara. Varietas ini hemat benih (hanya satu bibit per lubang dari satu butir gabah), tahan cuaca ekstrem dan hama, dengan batang kokoh dan produktivitas tinggi mencapai 8-12 ton gabah per hektare. Lahan seluas 753 hektare di Carita menjadi contoh sukses, dengan rencana replikasi ke daerah lain di Indonesia melalui kolaborasi antara petani, pemerintah, dan lembaga swadaya.

Keberhasilan panen raya ini menjadi momentum emas bagi seluruh pelaku pertanian untuk memperkuat ekosistem pertanian berkelanjutan. Model ini diharapkan dapat direplikasi secara nasional, berkontribusi pada pencapaian swasembada pangan dan kedaulatan pangan Indonesia.