Bos tim Mercedes Formula 1, Toto Wolff, memberikan dukungan penuh terhadap cara manajemen MotoGP menangani kontroversi seputar digelarnya Grand Prix Qatar di Sirkuit Lusail akhir pekan ini. Di tengah ketidakpuasan para pembalap yang sempat menggelar pemungutan suara rahasia akibat kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah, keputusan promotor untuk tetap melanjutkan balapan dinilai sudah berada di jalur yang tepat dan sejalan dengan pedoman internasional yang berlaku.
Situasi memanas setelah terungkap bahwa sebagian besar pembalap sempat menolak gagasan balapan di Qatar. Meskipun demikian, pada akhirnya sebagian besar grid tetap hadir, dengan pengecualian skuad pabrikan dan satelit Yamaha yang absen akibat kebijakan pembatasan perjalanan perusahaan. Menanggapi absennya Yamaha, pihak MotoGP sempat melontarkan kekecewaan dan indikasi adanya konsekuensi sportif, sembari menegaskan bahwa konsultasi mendalam dengan otoritas Qatar, pengelola sirkuit, dan penasihat keamanan independen tidak menemukan alasan untuk membatalkan agenda.
Beberapa pembalap menunjukkan sikap kompromi, sementara yang lain melontarkan kritik tajam. Juara dunia tujuh kali Marc Marquez secara terbuka menyatakan dalam konferensi pers pra-acara bahwa ia lebih memilih berada di tempat lain, bahkan sengaja datang pada penerbangan paling akhir dan bersiap pulang secepat mungkin. Dinamika internal ini menjadi sorotan luas di paddock motorsport internasional, terutama mengingat Formula 1 juga memiliki agenda balapan di kawasan tersebut menjelang akhir musim.
Formula 1 sendiri dijadwalkan menyambangi kawasan Teluk untuk dua seri penutup, yakni Grand Prix Qatar pada 29 November dan Grand Prix Abu Dhabi pada 6 Desember. Berbicara di Interlagos jelang Grand Prix Brasil, Toto Wolff menegaskan bahwa F1 selalu berpedoman pada arahan internasional yang solid sebelum memutuskan untuk menggelar sebuah ajang balap di wilayah tertentu.
Dalam keterangannya, Toto Wolff menyatakan, "Stefano Domenicali dan Mohammed Ben Sulayem telah sangat jelas mengenai situasi ini, bahwa Formula 1 mengikuti apa yang menjadi pedoman internasional, apakah ada pembatasan perjalanan, maskapai yang tidak terbang, peringatan apa pun di wilayah tersebut, jenis umpan balik yang dibuat oleh pemerintah lokal—jadi tidak hanya promotor, tetapi apa yang dibuat oleh pemerintah lokal. Dan ini adalah hal yang harus Anda andalkan, menurut saya."
Baca Juga MotoGP Berjuang Pertahankan GP Qatar di Kalender 2026Wolff menambahkan bahwa dirinya sepakat sepenuhnya dengan pendekatan tersebut, seraya mempertanyakan kapasitas para atlet yang terkadang berbicara mengenai geopolitik demi mendulang atensi media. "Dan saya sepenuhnya sejalan dengan itu. Saya pikir jika para pembalap berdiri dan secara geopolitik tidak tahu apa yang sedang terjadi tetapi mereka memiliki audiens yang mendengarkan, saya pikir itu adalah sesuatu yang menciptakan nilai media, tetapi saya akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan manajemen MotoGP," lanjutnya.
Menutup pandangannya, bos asal Austria itu menegaskan bahwa keikutsertaan dalam sebuah ajang balap adalah pilihan personal yang harus dikembalikan kepada masing-masing individu tanpa harus memicu polemik yang berlebihan. "Anda ingin membalap, atau mengemudi, silakan. Jika tidak ingin, jangan pergi. Sesederhana itu. Dan setiap orang dapat mengambil keputusan pribadi mereka mengenai hal itu, dan saya menghormatinya. Tentu saja, Anda harus mewaspadai apa yang terjadi dalam beberapa hari atau minggu ke depan," pungkas Wolff.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!