Awal pekan yang biasanya menjanjikan bagi Pedro Acosta mendadak berubah menjadi mimpi buruk di bawah lampu Sirkuit Lusail. Pembalap andalan tim pabrikan Red Bull KTM Factory Racing tersebut harus menelan pil pahit setelah gagal mengamankan tiket otomatis ke sesi kualifikasi kedua atau Q2 dalam rangkaian Grand Prix Qatar. Penampilan yang biasanya tajam dan penuh perhitungan mendadak kehilangan arah, menempatkan sang rookie sensasional di posisi ke-14 secara keseluruhan pada sesi latihan Jumat malam.
Situasi ini tercatat sebagai momen langka bagi sang pembalap asal Spanyol tersebut. Sepanjang kalender balap musim ini, kegagalan menembus sepuluh besar pada hari pertama praktis baru terjadi sebanyak tiga kali. Sebelum akhir pekan di Qatar, nasib serupa hanya dialami oleh pembalap berjuluk El Tiburon tersebut pada seri GP Italia dan GP Spanyol di awal musim. Kendati demikian, rekam jejak menunjukkan bahwa ia selalu mampu bangkit melalui jalur Q1 untuk merebut tempat di Q2 pada hari Sabtu.
Masalah utama yang dihadapi oleh sang juara dunia Moto2 musim lalu tampaknya berpusat pada kompon ban belakang lunak yang krusial untuk melakukan time attack. Padahal, pada sesi latihan bebas pertama dan awal sesi sore hari saat menggunakan ban kompon medium, performanya sangat menjanjikan dengan konsistently berada di jajaran lima besar. Namun, begitu ban baru berperekat lunak dipasang untuk mencetak waktu terbaik, traksi dan kestabilan motor RC16 seolah lenyap seketika di atas aspal gurun Qatar.
Dalam sesi wawancara bersama media, pembalap muda berbakat itu tidak dapat menyembunyikan kebingungannya atas anomali performa yang ia rasakan di atas kuda besi pabrikan Austria tersebut. Ia bahkan secara terbuka menyatakan tingkat frustrasinya terhadap situasi teknis yang mendadak memburuk tanpa diduga sebelumnya oleh seluruh anggota tim garasi Red Bull KTM.
"Hal pertama besok, kami akan mencoba membalikkan keadaan. Karena tidak mungkin menjadi lebih buruk dari hari ini," ungkap Pedro Acosta dalam sesi taklimat media berbahasa Spanyol.
Lebih lanjut merinci kendala teknis yang dialaminya, sang pembalap menjelaskan bahwa ia merasa memiliki kecepatan yang kompetitif sepanjang menggunakan ban medium yang telah berputar belasan lap. Namun, situasi berbalik drastis saat ia mencoba memaksimalkan potensi ban lunak baru yang justru memberikan cengkeraman sangat minim pada roda belakang motornya.
Baca Juga Solidaritas Pembalap MotoGP untuk Korban Kecelakaan Kereta di Toledo"Saya sudah memperkirakan sebelum datang ke sini bahwa ini akan menjadi balapan yang sangat sulit. Tetapi tetap saja, sesuatu yang aneh terjadi karena saya menunjukkan kecepatan yang bagus dengan ban belakang medium - dan kemudian dengan ban lunak baru, untuk time attack, itu benar-benar bencana," tambahnya dalam wawancara terpisah.
Ia menekankan bahwa tim teknik pabrikan asal Mattighofen tersebut harus segera memeriksa data telemetri secara mendalam untuk mencari akar permasalahan. Hilangnya performa pengereman dan cengkeraman dari ban belakang baru menjadi misteri terbesar yang harus segera dipecahkan sebelum sesi kualifikasi penentuan posisi grid dimulai pada hari Sabtu esok.
"Saya kehilangan banyak cengkeraman. Dan performa pengereman dengan ban belakang juga sangat, sangat rendah. Bahkan dibandingkan dengan ban belakang medium yang sudah berusia 10, 11, 12 lap, rasanya sangat aneh dengan ban lunak yang baru," pungkasnya. Selain masalah ban, ia juga sempat mengalami kendala elektronik yang memaksanya menepikan motor ke pinggir lintasan pada sesi awal hari itu.

Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!