Tepat pada tanggal yang sama dalam sejarah balap mobil bergengsi, ajang Formula 1 pernah menyaksikan tiga penentuan gelar juara dunia yang paling dramatis, penuh kontroversi, dan tak terlupakan dari dekade yang berbeda. Sejarah mencatat bagaimana musim 1984, 1990, dan 2007 menyuguhkan skenario perebutan mahkota juara yang sama sekali tidak biasa. Setiap musim menghadirkan drama tersendiri, mulai dari selisih poin paling tipis yang pernah ada dalam catatan sejarah olahraga otomotif dunia, hingga bentrokan sengit di atas lintasan yang terus dikenang hingga hari ini.
Musim 1984 menyajikan pertarungan internal yang sangat ketat di garasi tim McLaren antara dua pebalap hebat, yaitu Niki Lauda dan Alain Prost. Pertarungan mahkota juara ini harus ditentukan hingga seri pemungkas di Sirkuit Estoril, Portugal. Niki Lauda datang ke balapan penutup dengan keunggulan tipis 3,5 poin di klasemen sementara atas rekan setimnya yang jauh lebih muda tersebut. Sesi kualifikasi sempat menjadi bencana bagi Lauda setelah ia hanya mampu menempati posisi start ke-11, sementara Alain Prost memulai balapan dari posisi kedua di grid terdepan.
Ketegangan semakin memuncak ketika Niki Lauda menemukan barang-barang atribut tim yang merayakan potensi kemenangan gelar juara dunia Alain Prost sebelum balapan dimulai. Hal tersebut justru memicu motivasi luar biasa bagi pebalap asal Austria itu untuk mengerahkan seluruh kemampuannya di atas lintasan. Meskipun Alain Prost berhasil keluar sebagai pemenang balapan di Portugal, Niki Lauda sukses finis di posisi kedua yang sudah lebih dari cukup untuk mengamankan gelar juara dunia. Ia unggul tipis hanya 0,5 poin, yang hingga kini tercatat sebagai selisih kejuaraan paling dramatis dalam sejarah Formula 1 akibat penerapan setengah poin di Grand Prix Monako sebelumnya.
Enam tahun berselang, ketegangan kembali memuncak pada musim 1990 yang diwarnai oleh permusuhan sengit dan kepahitan yang terbawa dari musim sebelumnya. Rivalitas antara Ayrton Senna dan Alain Prost mencapai titik didih baru setelah kepindahan Alain Prost ke tim Ferrari. Perebutan gelar kembali mengerucut ke Sirkuit Suzuka, Jepang, di mana Ayrton Senna memimpin klasemen dan memiliki peluang besar untuk mengunci gelar juara dunia lebih awal jika mampu finis di depan rival utamanya tersebut.
Baca Juga Leclerc Akui Keputusan Ban Lunak untuk Sprint GP Belanda Berisiko TinggiAkan tetapi, kontroversi langsung mencuat ketika posisi start pole position milik Ayrton Senna dinilai berada di sisi lintasan yang kotor dan tidak menguntungkan. Protes yang dilayangkan tidak membuahkan hasil, memicu kemarahan mendalam bagi pebalap asal Brasil tersebut. Saat balapan dimulai, Alain Prost langsung melesat memimpin di tikungan pertama, namun Ayrton Senna yang berada di belakangnya menolak menginjak pedal rem dan menabrak bagian belakang mobil Ferrari hingga keduanya tersingkir ke gravel, yang otomatis mengunci gelar juara dunia kedua bagi Ayrton Senna.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!