Perjalanan Robert Kubica dalam ajang balap ketahanan dunia menyimpan sebuah cerita emosional yang mendalam, terutama setelah ia berhasil menuntaskan rasa penasaran panjangnya di sirkuit Circuit de la Sarthe. Memori pahit pada tahun 2021, di mana kemenangan kelas LMP2 harus sirna akibat masalah teknis di lap terakhir, meninggalkan luka tersendiri sekaligus memicu motivasi yang membara. Bersama rekan setimnya, Yifei Ye, pembalap asal Polandia tersebut terus memburu impian tertinggi hingga akhirnya takdir berpihak kepada mereka melalui kolaborasi bersama tim AF Corse di balik kemudi hypercar Ferrari 499P.

Dalam wawancara eksklusif bersama media internasional, Kubica mengenang kembali bagaimana debutnya di ajang Le Mans pada 2021 memberikan pusaran emosi yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia motorsport profesional. Hilangnya kemenangan di detik-detik akhir akibat kendala mekanis pada mobil yang telah berjuang selama berjam-jam digambarkan sebagai bentuk kekalahan paling kejam bagi seorang atlet. Namun, di balik rasa frustrasi tersebut, atmosfer magis Le Mans justru membangkitkan kembali semangat masa mudanya saat pertama kali turun menaklukkan kerasnya balapan gokar di Italia.

Pengalaman magis tersebut membuat Kubica bertekad untuk kembali dan membuktikan kapasitasnya dalam memperebutkan posisi puncak, sebuah ambisi yang nyaris terwujud pada edisi 2024 sebelum nasib sial kembali menghantam empat jam jelang finis. Menariknya, dalam dua insiden kegagalan tersebut pada 2021 dan 2024, Kubica selalu berbagi kokpit dengan Yifei Ye, menciptakan dinamika kemitraan yang diwarnai oleh tantangan berat serta tekanan psikologis yang tidak mudah untuk dikelola di lintasan balap yang sangat melelahkan.

- Advertisement -
Advertisement

Menjelang dimulainya rangkaian balapan Le Mans, Kubica sempat melontarkan sebuah candaan bernada ironis kepada rekan setimnya mengingat catatan sejarah minor yang mereka miliki bersama di garasi tim. "Avevo corso quattro volte a Le Mans. In due di queste avevo Yifei come compagno e mi sono ritirato, mentre le altre due volte ero arrivato secondo. Mi ricordo che prima della gara gli dissi: ‘Guarda che questa e la nostra ultima chance’. Io a queste cose non ci credo, ma l’ho buttata un po’ li come battuta, karena avevo corso due volte con Yifei e mi ero ritirato in entrambe le occasioni," ujar Kubica mengenang ucapannya saat itu, yang diterjemahkan secara bebas sebagai pengingat bahwa kesempatan emas tidak akan datang terus-menerus.

Baca Juga Ferrari Bidik Kebangkitan di WEC Barcelona Demi Jaga Asa Gelar Juara

Candaan bernada ultimatum tersebut ternyata menjadi kenyataan yang membahagiakan ketika AF Corse sukses mengamankan kemenangan mutlak di Le Mans setelah melalui pertarungan sengit di sepanjang durasi 24 jam penuh. Kemenangan ini tidak hanya menghapus seluruh trauma masa lalu dari kegagalan tragis di lap terakhir maupun insiden menjelang akhir perlombaan, tetapi juga mengukuhkan status Kubica sebagai salah satu pembalap ketahanan paling tangguh di era modern balap mobil sport internasional.