Menjelang digelarnya seri balap mobil internasional Formula 1 di sirkuit jalanan Singapura akhir pekan ini, isu kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang berasal dari wilayah Sumatra dan Kalimantan kembali menjadi sorotan publik internasional. Kekhawatiran mengenai kiriman asap yang diklaim mengganggu jalannya ajang balap jet darat tersebut sempat merebak luas di berbagai platform media sosial serta media massa asing seiring menurunnya kualitas udara di negara jiran.

Menanggapi situasi yang mendapat perhatian global tersebut, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia langsung mengambil langkah-langkah konkret di lapangan. Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menjelaskan bahwa pihaknya telah memperkuat kesiapsiagaan pasukan darat dari berbagai elemen penanggulangan bencana, termasuk mengoptimalkan peran kesatuan Manggala Agni yang berada di bawah naungan kementerian.

"Memperkuat pasukan darat yang ada di lapangan dari berbagai pihak, ya. Kalau kami di Kementerian Kehutanan kan ada Manggala Agni," ujar Rohmat saat ditemui di sela kegiatan akademik di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat.

- Advertisement -
Advertisement

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa pemerintah juga telah memberangkatkan personel tambahan melalui mekanisme bawah kendali operasi Polisi Kehutanan dari seluruh penjuru tanah air. Pasukan tersebut dikerahkan secara khusus ke enam provinsi yang dinilai memiliki tingkat kerawanan paling tinggi terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan, meliputi wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, hingga Sumatera Selatan.

Operasi pemadaman di lapangan turut didukung oleh koordinasi intensif bersama pemerintah daerah setempat, di mana aksi penyiraman lewat udara atau water bombing masih terus dijalankan hingga saat ini. Selain itu, upaya penanggulangan melalui teknologi operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan juga diupayakan secara maksimal, meskipun efektivitasnya sangat bergantung pada ketersediaan formasi awan yang memadai di atmosfer.

Rohmat mengungkapkan bahwa eskalasi karhutla pada periode ini turut dipicu oleh tekanan fenomena iklim El Nino yang cukup kuat, menyerupai kondisi iklim ekstrem yang pernah melanda pada tahun 2015 silam. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa upaya mitigasi secara kolektif berhasil menekan laju perluasan lahan yang terbakar secara signifikan pada tahun sebelumnya hingga berada di angka kisaran 350 ribu hektare.

Baca Juga Tragedi di Tanah Suci Enam Jemaah Umrah Indonesia Tewas.

Dalam ranah diplomasi kawasan, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dikabarkan telah melakukan komunikasi langsung dengan para pemimpin negara tetangga terdekat, khususnya Malaysia dan Singapura. Langkah ini diambil guna merumuskan strategi bersama serta memperkuat kerangka kerja sama bilateral maupun regional dalam menghadapi tantangan karhutla lintas batas.

"Presiden sudah melakukan komunikasi dengan pimpinan negara sahabat, terutama Malaysia dan Singapura, untuk bersama-sama memperkuat kerja sama penanganan karhutla," tutur Rohmat menambahkan penjelasannya.

Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang dalam meredam krisis lingkungan, pemerintah juga mengambil kebijakan strategis dengan membentuk Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional. Langkah institusional ini dinilai krusial mengingat karakteristik ekosistem lahan gambut menyimpan tantangan terberat dalam memicu titik api pemicu kabut asap lintas batas negara.