Drama menegangkan tersaji hingga detik-detik akhir penutupan musim kejuaraan reli dunia, di mana Oliver Solberg harus merelakan impian meraih gelar juara dunia setelah mengalami kecelakaan dramatis di etape khusus pamungkas. Insiden tersebut terjadi hanya dua tikungan jelang garis finis, mengubah perayaan kemenangan yang sudah di depan mata menjadi kepedihan mendalam bagi keluarga besar Solberg. Mengendarai mobil andalan Toyota GR Yaris Rally1, reli yang awalnya berjalan mulus mendadak berubah menjadi mimpi buruk ketika kendaraan melintasi tikungan kiri ketat.

Momen emosional tersebut turut disaksikan langsung oleh sang ayah sekaligus legenda reli, Petter Solberg, yang menceritakan detik-detik menegangkan di pinggir lintasan. Menjelang dimulainya etape penentuan tersebut, tim teknis sempat melakukan sedikit modifikasi pada pengaturan kendaraan dengan menaikkan ground clearance setinggi 25 milimeter. Perubahan kecil pada aspek teknis ini ternyata berdampak besar pada karakter pengendalian mobil, membuat kendaraan merespons dengan cara yang tidak biasa dan di luar dugaan sang pebalap muda.

"Ketika Oliver keluar dan berbelok ke kiri di dekat pantai, karakteristik jalannya sedikit berbeda. Sebelum start etape, mereka menaikkan mobil sejauh 25 milimeter dan mobil tersebut tidak berperilaku sama," ungkap Petter Solberg menguraikan akar permasalahan teknis yang merusak konsentrasi putaran akhir putranya. Saat insiden terjadi, Petter yang sudah dikelilingi kru televisi di garis finis seketika melihat kepulan debu besar membubung di udara, memupus keunggulan waktu 1,9 detik yang sempat dikantongi putranya.

- Advertisement -
Advertisement

Meski akhir musim berbuah kekecewaan pahit pada musim penuh pertamanya di level tertinggi WRC, respons keluarga Solberg menunjukkan ketangguhan mental yang luar biasa. Sang ayah menegaskan bahwa pencapaian putranya yang mampu bertarung sengit melawan pebalap kawakan sekelas Sebastien Ogier hingga etape pamungkas merupakan sebuah prestasi luar biasa. Mentalitas baja dan motivasi tinggi yang dimiliki generasi muda saat ini dinilai menjadi modal utama untuk bangkit dan menatap musim kompetisi berikutnya dengan ancaman yang jauh lebih berbahaya.

Baca Juga Kembalinya Kalle Rovanpera ke WRC Terus Dibahas oleh Toyota

"Dia mengatakan kepada saya, 'Aku minta maaf, Ayah. Aku ingin kita menjadi ayah dan anak pertama yang sama-sama menjadi juara dunia, tetapi aku gagal.' Saya katakan kepadanya, 'Kamu tidak gagal! Apa yang telah kamu lakukan sungguh luar biasa,'" pungkas Petter mengenang percakapan emosional mereka di garis finis. Pengalaman pahit di Sardinia kini resmi ditutup, dan fokus keluarga Solberg sepenuhnya telah dialihkan untuk memburu mahkota juara dunia pada musim balap yang akan datang.