Mantan prinsipal tim Red Bull, Christian Horner, baru-baru ini mengungkapkan bahwa para pemegang saham perusahaan telah menghubunginya secara khusus. Telepon tersebut dilayangkan sebagai bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih menyusul keberhasilan unit daya Red Bull Ford Powertrains yang sukses meraih kemenangan perdana di ajang Formula 1. Prestasi gemilang ini diraih dalam rangkaian balapan di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah, yang menandai tonggak sejarah baru bagi pabrikan asal Milton Keynes tersebut dalam menapaki era regulasi mesin baru.
Perjalanan panjang Christian Horner bersama skuad yang bermarkas di Milton Keynes ini bermula ketika ia mengambil alih posisi pimpinan tim saat perusahaan minuman energi tersebut mengakuisisi skuad Jaguar menjelang musim 2005. Selama dua dekade mengemban tanggung jawab di pucuk pimpinan, ia tidak hanya mempersembahkan delapan gelar juara dunia pebalap dan enam titel konstruktor yang prestisius, tetapi juga memimpin transisi krusial dari sekadar tim konsumen mesin menjadi produsen power unit mandiri. Keputusan strategis ini diambil menyusul keputusan mundurnya Honda dari kancah Formula 1 pada akhir musim 2021, yang memaksa tim untuk berdikari dalam urusan suplai mesin.
Meskipun Red Bull sempat melanjutkan kerja sama dengan unit daya buatan pabrikan Jepang tersebut hingga tahun lalu, mesin rancangan internal yang dikembangkan bekerja sama dengan Ford akhirnya melakukan debut kompetitif pada musim 2026 ini. Kerja keras bertahun-tahun dalam membangun fasilitas Powertrains dari nol akhirnya terbayar tuntas ketika unit daya tersebut berhasil mencatatkan kemenangan perdananya melalui penampilan impresif pebalap andalan mereka. Keberhasilan ini sekaligus membuktikan bahwa visi besar untuk membangun pabrik mesin sendiri di bawah kepemimpinan Christian Horner bukanlah sebuah angan-angan belaka, melainkan sebuah rencana matang yang membuahkan hasil nyata di atas lintasan balap.
Dalam sebuah konferensi bisnis di New York, Christian Horner menceritakan kembali tantangan besar yang harus dihadapi timnya ketika harus beralih fungsi menjadi produsen mesin. Ia menyatakan, "Kami berhasil melakukannya di sisi sasis dan kemudian tantangannya muncul, bisakah kami melakukannya di sisi mesin? Anda tahu, kami harus memiliki mesin setelah Honda mengumumkan penarikan diri mereka pada tahun 2020. Jadi kami mendirikan perusahaan rintisan bernama Powertrains ini, dengan filosofi yang sama untuk menarik talenta, memberikan kesempatan kepada orang-orang, memberikan peluang, dan memberdayakan serta mendorong mereka untuk mendobrak batas.". Ia juga menambahkan rasa bangganya terhadap proyek ambisius tersebut, "Saya sangat bangga bisa menjadi bagian dari mesin yang dikembangkan dan dikirimkan tahun ini.".
Baca Juga Kesalahan Strategi GP Singapura Ungkap Kelemahan Charles LeclercPanggilan telepon dari para petinggi Red Bull tersebut menjadi momen yang sangat emosional mengingat dinamika internal yang terjadi sebelumnya. Christian Horner sendiri harus meninggalkan posisinya pada Juli 2025 lalu setelah digantikan oleh Laurent Mekies, menyusul perubahan peta kekuatan di internal manajemen pasca wafatnya salah satu pendiri perusahaan, Dietrich Mateschitz. Kendati sempat mengalami pemecatan yang dinilainya cukup mendadak dan keras akibat melemahnya dukungan dari kubu pemegang saham mayoritas, apresiasi atas proyek mesin ini tetap disambut dengan rasa syukur yang mendalam oleh sang mantan prinsipal.

Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!