Dunia balap Formula 1 tidak hanya tentang adu kecepatan di atas lintasan aspal, tetapi juga drama di balik layar yang kerap mencuri perhatian publik global. Belum lama ini, prinsipal tim Red Bull Racing, Christian Horner, melontarkan komentar tajam sekaligus jenaka mengenai mantan bos tim Haas, Guenther Steiner. Di tengah promosi buku otobiografinya, Horner dengan blak-blakan menyatakan bahwa serial dokumenter Netflix, Drive to Survive, adalah satu-satunya hal yang benar-benar mengangkat nama Steiner di kancah internasional.

Meskipun kedua sosok penting ini telah malang melintang di dunia balap selama beberapa dekade, popularitas Steiner meroket tajam berkat penampilannya yang apa adanya di layar kaca. Steiner dan Horner bahkan sempat bekerja sama secara singkat pada tahun 2005 silam, di mana Steiner menjabat sebagai direktur operasional teknik sementara Horner mengemban peran sebagai prinsipal tim. Hubungan profesional tersebut kemudian berubah ketika Steiner memutuskan pindah ke ajang NASCAR pada tahun 2008 sebelum akhirnya kembali ke paddock Formula 1 pada tahun 2016 untuk memimpin tim Haas.

Ketika musim perdana Drive to Survive mulai mengudara, banyak tim sempat merasa ragu dan memilih untuk tidak terlibat dalam proyek tersebut. Namun, tim Haas justru menjadi salah satu fokus utama dari serial dokumenter populer itu. Berkat gaya bicara yang blak-blakan serta penggunaan bahasa yang ekspresif, Steiner dengan cepat bertransformasi menjadi salah satu karakter paling digemari oleh para penonton televisi di seluruh dunia, mengubah persepsi publik terhadap figur petinggi di dalam paddock.

- Advertisement -
Advertisement

Kendati demikian, perjalanan karier Steiner bersama tim asal Amerika Serikat tersebut harus berakhir lebih cepat setelah kontraknya tidak diperpanjang usai musim balap 2023 rampung. Sejak meninggalkan posisinya di pinggir pit wall, Steiner tidak menyia-nyiakan popularitas yang telah diraihnya. Ia aktif memperluas portofolio karier media melalui peluncuran buku, tur keliling, hingga rutin tampil sebagai narasumber di berbagai siniar otomotif terkenal.

Dalam wawancaranya dengan Autosport, Horner mengupas tuntas bagaimana dunia penyiaran modern mampu membentuk narasi yang kuat bagi para penonton awam. "Orang-orang ini membuat sebuah acara televisi, jadi mereka mengambil rekaman berjam-jam lamanya, dan semuanya tentang bagaimana Anda mengedit sesuatu," ujar Horner menjelaskan proses kreatif di balik layar serial dokumenter tersebut.

Baca Juga Pembalap F1 Berduka Kehilangan Sirkuit Zandvoort yang Ikonik

Lebih lanjut, suami dari mantan personel Spice Girls tersebut menambahkan bahwa sudut pandang editing mampu mengubah persepsi penonton secara drastis terhadap seseorang di dalam garasi tim. "Anda bisa membuat seseorang terlihat seperti penjahat atau pahlawan, atau sebaliknya. Acara itu sangat sukses karena tiba-tiba membuka tabir tentang beberapa persaingan, kepribadian, kepribadian para pembalap, beberapa karakternya," imbuhnya dengan nada menganalisis.

Horner bahkan tidak ragu melontarkan gurauan pedas terkait rekam jejak prestasi teknis sang kolega selama berada di lintasan balap Formula 1. "Guenther Steiner telah membuat karier dari hal tersebut... Maksud saya, saya tidak berpikir dia pernah meraih podium di Formula 1!" ujar Horner sambil mengenang masa lalu mereka ketika bekerja di bawah panji minuman berenergi asal Austria tersebut.

Di akhir perbincangannya, Horner tetap memberikan apresiasi atas kontribusi besar yang telah diberikan oleh Steiner dalam menarik minat generasi penggemar baru ke dalam olahraga adu kecepatan jet darat ini. Ia mengenang kesan pertamanya saat pertama kali diperkenalkan oleh mendiang Niki Lauda untuk merekrut pria berkebangsaan Italia tersebut ke dalam struktur manajemen tim.