Genap dua tahun sudah berlalu sejak balapan terakhir Daniel Ricciardo di ajang Formula 1, sebuah kepergian yang terjadi secara senyap dan menyisakan rasa penyesalan bagi sang pemenang delapan grand prix tersebut. Meskipun perjalanan kariernya di ajang balap mobil roda terbuka paling bergengsi di dunia itu telah usai, pertanyaan besar tetap mengintai mengenai masa depan sang atlet asal Australia ini. Apakah kiprahnya di dunia balap benar-benar telah tertutup selamanya?
Dalam wawancara mendalam bersama siniar Beyond The Grid, pembalap yang akrab dijuluki Honey Badger ini mengakui bahwa dirinya kini sudah hampir sepenuhnya berdamai dengan cara karier F1-nya berakhir. Walaupun belum sepenuhnya berada di angka seratus persen, ia merasa sekitar sembilan puluh persen dari dirinya telah menerima kenyataan pahit tersebut demi mencari ketenangan batin serta penutupan babak hidup yang layak.
"Setahun yang lalu, saya mungkin akan mengatakan bahwa saya tidak akan pernah mengenakan helm lagi, saya sudah selesai, titik," ujar Daniel Ricciardo menggambarkan dinamika perasaannya. "Namun ada sesuatu di dalam diri saya yang berpikir bahwa akan menyenangkan untuk mengakhiri karier balap dengan cara yang lebih sesuai keinginan saya sendiri; melakukan sesuatu yang membuat saya tersenyum dan bahagia saat melepas helm. Mungkin itulah bagian terakhir dari penutupan yang saya butuhkan."
Lebih lanjut, mantan bintang Red Bull Racing dan McLaren tersebut menegaskan bahwa prospek untuk kembali turun semusim penuh di sebuah kejuaraan besar sama sekali tidak menarik minatnya saat ini. Sebaliknya, ia melirik peluang untuk tampil dalam ajang balap tunggal atau one-off, dengan Le Mans sebagai salah satu opsi paling menarik yang mulai dipertimbangkan secara serius.
Formula 1 dikenal sebagai lingkungan yang sangat egois dan menuntut konsentrasi tingkat tinggi, di mana rekan setim sering kali menjadi lawan terberat di lintasan. Baginya, gagasan untuk berbagi kokpit dengan pembalap lain, saling bertukar data, serta membangun kerja sama tim yang sesungguhnya menawarkan pengalaman berbeda yang jauh lebih menenangkan di fase kariernya saat ini.
Baca Juga Audi Disebut Punya Fasilitas Power Unit 'Second to None'"F1 sangat egois dalam arti yang memang diperlukan. Ya, Anda punya rekan setim, tetapi itu adalah lawan pertama Anda dan seterusnya. Saya pikir berbagi mobil dengan pembalap lain dan benar-benar memiliki rekan setim yang nyata untuk berbagi data serta saling membantu, saya rasa itu akan sangat menyenangkan--terutama sekarang, di titik di mana api persaingan yang gila itu telah memudar sampai tingkat tertentu," tambahnya.
Kendati demikian, Daniel Ricciardo tetap bersikap hati-hati dan tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan besar yang didasarkan pada ego semata atau sekadar demi mewujudkan akhir cerita bak negeri dongeng bagi para penggemarnya. Ia menyadari bahwa keputusan sebesar tampil di Le Mans harus lahir dari lubuk hatinya yang paling dalam, bukan sekadar pelipur lara untuk memuaskan ekspektasi publik.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!