Pilu kembali merundung kubu Audi dalam lanjutan kejuaraan dunia Formula 1 musim ini setelah Nico Hulkenberg kembali harus puas menyelesaikan balapan tepat di luar zona poin. Penampilan konsisten namun sial ini mengulang tren negatif yang semakin akrab dengan skuad asal Jerman tersebut sepanjang kalender balap tahun ini. Memulai jalannya balapan dari posisi start ke-11 di Circuit of the Americas, Austin, pembalap berpengalaman asal Jerman itu sempat menaruh asa besar untuk bisa menembus sepuluh besar dan mendulang angka penting bagi tim.

Sialnya, impian tersebut langsung mendapati ujian berat ketika lampu start padam dan jalannya lomba baru saja dimulai. Alih-alih mempertahankan posisi atau melakukan progres ke depan, mobil yang dikemudikan oleh sang pembalap justru mengalami insiden teknis yang langsung merusak strategi awal balapan. Selepas tikungan pertama, posisinya langsung merosot tajam hingga terlempar jauh ke barisan belakang, yakni di peringkat ke-16, membuat perjuangannya sepanjang sisa balapan menjadi jauh lebih berat dari yang diperhitungkan sebelumnya.

Menanggapi insiden yang menimpa kendaraannya di fase awal lomba, sang pembalap memberikan penjelasan teknis mengenai apa yang sebenarnya terjadi di kokpitnya. «Setelah yang sebenarnya merupakan awal yang bagus, mobil saya masuk ke mode anti-stall. Bukan seketika, melainkan agak terlambat. Saya sempat melaju beberapa meter, jadi saya telah melewati bagian pertama start dan kemudian mode anti-stall itu aktif,» ujar pembalap bernomor mobil khas tersebut selepas perlombaan berakhir dengan nada penasaran.

- Advertisement -
Advertisement

Ia menambahkan bahwa situasi tersebut memberikan dampak psikologis dan teknis yang langsung terasa pada handling mobil di atas lintasan aspal Texas. «Setelah itu rasanya sedikit aneh, jadi saya harus berbicara lagi dengan tim dan memeriksa apa yang sebenarnya terjadi,» sambungnya mengenai investigasi internal yang harus segera dilakukan oleh para engineer di garasi untuk memastikan masalah serupa tidak terulang pada seri-seri berikutnya di sisa musim ini.

Akibat merosotnya posisi tersebut, ia harus menghabiskan sebagian besar paruh pertama lomba untuk bertarung dan menaklukkan barisan pembalap di zona tengah. Meskipun pada akhirnya ia mampu merangksek naik dan kembali ke posisi awal tempatnya memulai balapan, kerugian waktu yang terakumulasi di lap-lap awal sudah telanjur besar untuk bisa dikejar secara efektif melawan para rival terdekatnya di barisan sepuluh besar.

Baca Juga Antonelli Rebut Pole F1 GP Amerika Serikat 2026 Bersama Mercedes

Lebih lanjut, ia menjelaskan mengapa sangat sulit untuk memangkas selisih waktu ketika kecepatan mobil pesaing berada di level yang nyaris setara. «Hal itu tentu saja sedikit menjatuhkan posisi kami, tetapi kemudian kami berhasil melewati bagian-bagian yang lebih mudah dan kembali ke tempat kami memulai. Namun tentu saja saat itu kami sudah tertinggal cukup jauh dari Pierre dan Liam, dan karena kami melaju dengan kecepatan yang sama, sulit untuk mengejarnya kembali,» jelasnya menganalisis situasi.

Perjuangan keras tersebut pada akhirnya harus dibayar mahal karena selisih waktu yang tercipta akibat kekacauan di lap pembuka tidak mampu lagi ditutup hingga garis finis dikibarkan. «Kami memiliki kecepatan yang sangat mirip, namun jika Anda tertinggal 8 atau 10 detik dan melakukan hal yang sama, jaraknya akan tetap sama — tetapi jarak tersebut tentu saja merupakan hasil dari putaran pertama itu,» imbuhnya mengeluhkan kerugian krusial yang terjadi di awal lomba.

Hasil akhir di Austin ini semakin mempertegas sebuah rekor statistik yang kurang mengenakkan bagi pabrikan yang sedang mempersiapkan diri secara penuh di ajang balap mobil roda terbuka paling bergengsi di muka bumi ini. Tercatat, posisi ke-11 telah diraih sebanyak sepuluh kali dari total 18 Grand Prix yang sudah digelar sejauh musim ini berjalan, menjadikan mereka sebagai tim yang paling sering finis di posisi pertama sebagai non-pencetak poin dibanding para kontestan lainnya.