Marc Marquez tak sedang bermain-main ketika ia menyebut Pedro Acosta sebagai ancaman serius perebutan gelar MotoGP 2026. Dan kemenangan perdana Acosta di Grand Prix Austria akhir pekan lalu adalah bukti telak bahwa penilaian Marquez bukan sekadar basa-basi.

Acosta akhirnya memecah telur di balapan ke-56 dalam karier kelas utamanya. Momen itu datang di tempat yang tepat: Sirkuit Red Bull Ring, kandang KTM, dan yang lebih pahit, ini adalah penampilan terakhirnya di tanah Austria bersama pabrikan yang membesarkannya sejak ia menginjak paddock grand prix pada 2021.

KTM tentu tak bisa menyembunyikan kekecewaan. CEO Gottfried Neumeister yang hadir langsung di sirkuit mengakui bahwa pihaknya tak mampu menahan Acosta untuk tetap bertahan hingga 2027. Alasan sang pembalap jelas: ia ingin menantang Marc Marquez dengan motor yang setara. Sesuatu yang Ducati bisa tawarkan, dan KTM tidak.

- Advertisement -
Advertisement

Meski begitu, KTM tak sepenuhnya tanpa salah. Jika saja mereka mampu menyediakan RC16 yang lebih kompetitif musim lalu dan konsisten di awal musim ini, Acosta mungkin masih bisa diyakinkan untuk bertahan. Sayangnya, peluang meraih kemenangan grand prix memang jarang datang. Kecepatan Acosta tak pernah diragukan, tapi motor sering kali tak sejalan dengan ambisinya.

Namun sejak jeda musim panas, gelombang perubahan mulai terasa. Acosta dilaporkan 'memecahkan tengkorak' di dalam tim KTM, menuntut mereka menggali lebih dalam dan memberinya apa yang ia butuhkan setiap akhir pekan. Hasilnya? Podium di Aragon dan Misano, lalu puncaknya kemenangan di Austria. Crew chief Paul Trevathan bahkan menyebut Acosta hanya butuh 'satu jam' untuk melupakan kesalahannya di sprint, di mana ia terjatuh di chicane Turn 2 saat memeriksa dasbor.

Baca Juga Wolff Sudah Tahu Antonelli Akan 'Berjalan di Atas Air' di Monza

Balapan utama tak berjalan mulus. Acosta sempat jatuh di akhir warm-up, memaksa timnya dan bantuan dari Tech3 membangun ulang motor hanya beberapa jam sebelum lampu start menyala. Ia mengaku 'gemetar' karena takut membuat kesalahan ketiga. Tapi perlahan ia bangkit, mengambil alih pimpinan balapan di lap sembilan setelah menyalip Jorge Martin di keluar Turn 1. Keunggulannya memang hanya sekitar satu detik di garis finis, tapi itu sudah cukup.

Martin pun memberi pujian setinggi langit: 'Saya pikir hari ini Pedro bertarung untuk sesuatu yang lebih dari sekadar kemenangan.' Artinya, mengalahkan Acosta di Austria adalah misi yang nyaris mustahil bagi pembalap yang sedang berusaha memperpanjang keunggulan klasemen. Perayaan Acosta dengan membanting motornya di aspal Turn 2 menunjukkan betapa besar beban yang ia lepaskan.

Dengan performa seperti ini, tak heran jika Marc Marquez waspada. Acosta bukan lagi sekadar pembalap muda berbakat; ia telah menjelma menjadi penantang gelar yang sesungguhnya. Jika KTM tak mampu menahannya, Ducati akan menjadi rumah barunya—dan Marquez tahu betul apa artinya berhadapan dengan Acosta di atas motor yang setara.