Max Verstappen tidak sedang berhalusinasi ketika ia menyebut mobil Red Bull-nya "terbuat dari kertas". Itu adalah metafora tajam yang menggambarkan frustrasi mendalam atas performa RB22 yang terus menurun sepanjang sesi balapan. Kini, sang bos tim, Laurent Mekies, buka suara dan mengakui bahwa masalah ini nyata—dan tidak bisa dibereskan dalam waktu dekat.

Selama beberapa seri balapan musim ini, Verstappen berulang kali mengeluh bahwa mobilnya kehilangan cengkeraman dan kecepatan dari awal hingga akhir sesi. Masalah utama terletak pada poros belakang, yang membuatnya harus berjuang ekstra keras. Puncaknya terjadi di Monza, saat ia melontarkan komentar pedas usai kualifikasi. "Mobil ini seperti terbuat dari kertas," ujarnya saat itu, menggambarkan betapa rapuhnya performa RB22 di bawah tekanan.

Yang membuat situasi ini semakin rumit, Verstappen mengklaim telah melaporkan masalah degradasi mobil ini secara internal selama bertahun-tahun. Artinya, ini bukanlah penyakit baru. Red Bull sudah bergulat dengan masalah yang sama sejak beberapa musim lalu, bahkan ketika regulasi teknis dirombak total pada 2026. Pertanyaan besarnya: mengapa masalah ini begitu persisten? Apakah tim asal Milton Keynes ini benar-benar paham akar permasalahannya?

- Advertisement -
Advertisement

Max Verstappen di Monza
Max Verstappen tampil frustrasi di Monza setelah mobilnya kehilangan performa. (Foto: Alex Bierens de Haan / Getty Images)

Ketika ditanya langsung oleh Motorsport.com, Mekies tidak memberikan jawaban teknis yang detail. "Saya rasa kami tidak akan menjelaskan apa masalahnya dan bagaimana kami akan memperbaikinya," ujar pria Prancis itu. Namun, ia membenarkan pernyataan Verstappen. "Max benar, ada elemen degradasi performa mobil yang terjadi sepanjang sesi dan balapan. Dia juga benar bahwa ini bukan masalah baru. Kami tidak tidur, kami telah mencoba mengatasinya dengan berbagai cara."

Baca Juga Hamilton Dituding Berbahaya oleh Rival di FP1 Madrid

Mekies menyadari kompleksitas masalah ini. "Jelas ini masalah rumit. Kalau tidak, kami pasti sudah menemukan solusinya. Tapi semua orang sangat konstruktif, dan kami mencoba mengambil langkah kecil untuk akhirnya menemukan akar masalahnya." Langkah kecil itu mulai terlihat di Madrid, di mana Red Bull mencoba menerapkan pelajaran dari Monza. Hasilnya? Masalah degradasi tidak muncul, atau setidaknya tidak separah sebelumnya. "Kami membuat beberapa langkah positif akhir pekan ini," kata Mekies. "Ini tidak akan menjadi gambaran penuh, tapi kami telah membuat kemajuan dalam pemahaman kami. Kami belum punya semua solusinya, tapi saya percaya kami berada di jalur yang benar. Ini tidak akan cepat, jadi mungkin akan berlanjut hingga tahun depan."

Pernyataan Mekies menegaskan apa yang sudah disiratkan Verstappen: beberapa masalah tidak bisa diperbaiki musim ini dan membutuhkan perubahan besar pada desain sasis untuk 2027. Batasan anggaran (budget cap) dan fokus yang sudah beralih ke musim 2027 membuat Red Bull tidak bisa leluasa mengubah RB22. Ini adalah pil pahit bagi tim yang terbiasa mendominasi. Dengan Red Bull yang masih berjuang memahami karakter mobilnya, akankah mereka mampu menahan laju rival sebelum 2027 tiba?