Pembalap Marc Marquez secara tegas menghindari perbandingan antara keputusan Jorge Martin untuk memaksakan diri turun di Grand Prix Malaysia dengan pengalaman kelamnya sendiri pada musim 2020 silam. Sang bintang Ducati tersebut menilai bahwa situasi fisik dan cedera yang dialami oleh rival perebutan gelar juaranya itu memiliki karakteristik berbeda, sehingga dirinya merasa tidak berada dalam posisi yang tepat untuk memberikan penilaian atau menghakimi risiko yang sedang diambil oleh sang pembalap.

Upaya keras Martin untuk tetap mengaspal di Sirkuit Sepang akhir pekan ini memang menyita perhatian, mengingat ia baru saja mengalami kecelakaan hebat di Phillip Island yang menyebabkan patah tulang pada bagian radius lengan kanannya. Kurang dari sepekan pasca-insiden tersebut, pembalap Aprilia itu mencoba menjalani sesi latihan bebas hari Jumat. Namun, ia terpaksa membatasi aktivitas jalurnya dan hanya mampu menyelesaikan tiga putaran saja pada sesi latihan sore demi menghemat tenaga pemulihannya, setelah sebelumnya finis di posisi ke-20 dengan selisih waktu yang cukup jauh.

Situasi tersebut langsung memunculkan memori publik pada insiden enam tahun lalu, ketika Marquez sendiri sempat membuat keputusan kontroversial dengan mencoba langsung balapan sepekan usai mengalami patah tulang lengan kanan di GP Spanyol. Keputusan terburu-buru itu berujung pada bencana besar ketika cederanya semakin parah, yang kemudian memaksa pebalap asal Spanyol tersebut menjalani serangkaian operasi lanjutan selama bertahun-tahun demi memulihkan kondisi fisiknya secara maksimal.

- Advertisement -
Advertisement

Kendati memiliki kemiripan dalam hal memaksakan diri kembali terlalu cepat di atas kuda besi MotoGP, Marquez enggan menarik garis sejajar antara pengalamannya dengan kondisi yang sedang dihadapi oleh rival utamanya saat ini. Menurutnya, penilaian dari luar tidak akan pernah bisa menggambarkan secara akurat tingkat keparahan medis yang dialami oleh sang kompatriot di dalam garasinya.

"Saya tidak akan mengevaluasi, karena saya tidak tahu persis apa yang dia miliki," ujar Marquez menjelaskan sikap enggan-nya memberikan komentar mendalam terkait keputusan medis sang rival. "Saya tidak tahu apakah tulangnya patah sepenuhnya atau hanya retak. Saya tidak tahu, jadi saya tidak ingin masuk ke dalam ranah itu."

Baca Juga Aprilia Ungkap Emosi Campur Aduk Usai Pembatalan MotoGP Australia

Meskipun demikian, peraih banyak gelar juara dunia tersebut tetap menaruh kepercayaan penuh pada prosedur dan protokol medis yang berlaku di ajang balap motor paling prestisius di dunia ini. Ia meyakini bahwa izin tampil yang diberikan oleh tim dokter pasti telah melalui pertimbangan ketat terkait batas toleransi risiko dan rasa sakit yang harus ditanggung oleh seorang atlet profesional.

"Namun saya percaya pada protokol medis, bahwa jika mereka mengatakan dia fit, rasa sakit itu ada tetapi risikonya dapat diterima. Tapi tentu saja, rasa sakit itu pasti ada. Martin adalah orang yang kuat, tetapi hari ini dia sedang berjuang keras," tambahnya menggambarkan beratnya beban fisik yang harus ditanggung oleh sang juara bertahan.

Sebelumnya, Martin memang telah mengantongi lampu hijau awal dari tim medis untuk memulai rangkaian GP Malaysia pada hari Kamis, sebelum akhirnya menerima pengesahan final pasca-sesi FP1 dari dokter sirkuit Angel Charte. Meskipun sempat menyelesaikan 12 putaran pada sesi pagi, cederanya memaksa Martin mengambil keputusan rasional untuk menghentikan lebih awal sesi sore demi fokus pada pemulihan fisik menjelang sesi kualifikasi dan balapan sprint krusial.