MotoGP, Nusantara Media – Pernyataan mengejutkan dari manajer veteran Carlo Pernat baru-baru ini menarik perhatian komunitas MotoGP. Ia mengklaim bahwa motor Aprilia RS-GP musim 2025 sebenarnya lebih unggul dibandingkan Ducati Desmosedici yang memenangkan gelar juara dunia. Analisis ini muncul pasca-musim 2025, di mana Ducati mendominasi dengan menyapu tiga gelar utama, namun Aprilia menunjukkan lonjakan performa signifikan di paruh kedua musim.

Musim 2025 menjadi yang terbaik bagi Aprilia dalam sejarah MotoGP. Tim asal Noale ini meraih empat kemenangan dengan RS-GP 2025 dan finis runner-up di klasemen konstruktor, hanya di belakang Ducati. Namun, Pernat menekankan bahwa pencapaian ini terjadi meskipun beberapa rival menggunakan spesifikasi Ducati lebih lama, seperti Álex Marquez yang finis kedua klasemen dengan GP24. Pernyataan ini menyoroti kemajuan aerodinamika dan konsistensi Aprilia, terutama setelah paruh kedua musim di mana mereka secara rutin bersaing di depan melawan Marc Marquez dan tim Ducati.

Carlo Pernat menyatakan secara tegas: “Aprilia has arrived. In fact, not only has it arrived, I have the impression it has also stepped on the accelerator.” Ia melanjutkan, “And seeing what we saw, I'm almost tempted to say that this year's Aprilia RS-GP is a better bike than this year's Desmosedici.” Pernat juga menambahkan bahwa meskipun Marc Marquez membuat perbedaan besar bagi Ducati—dengan 11 kemenangan dan gelar ketujuhnya—ia ragu apakah hal itu cukup untuk musim mendatang. “Ducati won't be able to sleep soundly,” ujarnya kepada Telenord.

Selain itu, Pernat memuji perkembangan Marco Bezzecchi, yang meraih dua kemenangan dan finis ketiga klasemen secara keseluruhan. Prestasi Bezzecchi digambarkan sebagai “astonishing”, menunjukkan adaptasi cepat pembalap Italia tersebut dengan RS-GP. Namun, Ducati tetap mendominasi dengan 17 kemenangan dari 22 grand prix, meskipun Desmosedici 2025 terbukti sulit bagi Pecco Bagnaia dan Fabio Di Giannantonio, yang mengalami musim inkonsisten dibandingkan tahun sebelumnya.

Analisis mendalam mengungkapkan bahwa klaim Pernat didasari oleh performa Aprilia di sirkuit-sirkuit tertentu, di mana RS-GP menunjukkan keunggulan aerodinamika dan daya saing rata-rata yang lebih baik. Meskipun Ducati masih memimpin secara keseluruhan, gap dengan Aprilia menyempit drastis di akhir musim. Hal ini diperkuat oleh pandangan lain, seperti dari Álex Rins yang melihat Aprilia mencapai level Ducati, serta Massimo Rivola (CEO Aprilia) yang menyebut RS-GP sebagai referensi aero di grid.

Prospek 2026 menjadi semakin menarik dengan potensi Aprilia sebagai penantang serius dominasi Ducati. Dengan pembalap seperti Jorge Martin dan Marco Bezzecchi di Aprilia Racing, serta pengembangan berkelanjutan, tim ini berpeluang menggoyang status quo. Namun, faktor seperti adaptasi pembalap dan keputusan teknis Ducati—termasuk pengaruh Marc Marquez—akan menentukan hasil sebenarnya.

Secara keseluruhan, pernyataan Carlo Pernat menegaskan bahwa era dominasi Ducati mungkin mulai terancam. Para penggemar MotoGP kini menanti evolusi teknis dan performa di tes pramusim mendatang, yang dapat mengonfirmasi apakah RS-GP benar-benar telah melampaui Desmosedici.

Untuk liputan MotoGP mendalam lainnya, kunjungi nusantara.media.