MotoGP, Nusantara Media – Pembalap Spanyol Álex Rins baru-baru ini mengungkapkan pengalaman dua musimnya bersama Monster Energy Yamaha MotoGP sebagai periode yang cukup sulit secara mental, namun dukungan tim menjadi faktor utama yang meringankan beban tersebut. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara pasca-musim 2025, di mana Rins menekankan peran krusial kru profesional di garasi.

Perjalanan Rins di Yamaha dimulai setelah masa sulit bersama LCR Honda, yang dibayangi cedera kaki serius pada Grand Prix Italia 2023. Diperkirakan mampu beradaptasi cepat dengan mesin inline-four Yamaha—mengingat kesuksesannya bersama Suzuki GSX-RR pada 2017-2022—Rins justru kesulitan mengembalikan performa pemenang balapan. Hasil terbaiknya sepanjang dua musim adalah posisi ketujuh pada Grand Prix Indonesia 2025, dengan momen menjanjikan saat menantang podium di Mandalika sebelum finis kesepuluh akibat degradasi ban berlebih. Secara keseluruhan, Rins menempati peringkat 19 klasemen dengan 68 poin, tertinggal jauh dari rekan setimnya, Fabio Quartararo, yang meraih 201 poin dan beberapa podium.

Meskipun menghadapi tantangan kompetitif—di mana Yamaha masih tertinggal dari Ducati dan Aprilia—Rins menyoroti kekuatan tim sebagai penopang utama. “It was a bit tough, mentally,” ujar Rins mengenai dua tahunnya di Yamaha. “But, having a good group of people around you and good professionals, it’s easier. In the end, you need to be at 100%, so they try to, in the tougher moments, to not think like this. I believe in my team, and I know that they are really professional and they are the best ones.”

Selain itu, Rins menegaskan tidak pernah merasa perlu mengganti kru, berbeda dengan praktik umum di tim lain saat menghadapi kesulitan. Kontinuitas kru ini akan berlanjut karena Yamaha memperpanjang kontrak mereka. Hal ini memberikan stabilitas penting bagi pembalap berusia 30 tahun tersebut, terutama menjelang transisi besar pada 2026: debut mesin V4 pertama Yamaha di era modern. Rins dan Quartararo dijadwalkan meluncurkan musim baru di Jakarta pada 21 Januari 2026, menandai akhir kontrak Rins saat ini.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa dukungan tim tidak hanya membantu aspek psikologis, tetapi juga mempertahankan fokus pada pengembangan. Meski Yamaha kesulitan bersaing di depan, Rins tetap optimis dengan potensi perubahan mesin V4, yang diharapkan membawa lompatan performa signifikan. Namun, posisinya di klasemen menegaskan perlunya adaptasi lebih lanjut, terutama dibandingkan dengan Quartararo yang lebih konsisten.

Secara keseluruhan, pengakuan Rins menyoroti pentingnya lingkungan tim yang solid di tengah tekanan MotoGP. Dengan kontrak berakhir pasca-2026, performa pada musim V4 akan menentukan kelanjutan karirnya di kelas premier. Para penggemar kini menanti apakah perubahan teknis Yamaha mampu mengembalikan Rins ke level pemenang seperti era Suzuki-nya.

Untuk analisis MotoGP lebih mendalam, kunjungi nusantara.media.