Pembalap senior Lewis Hamilton baru-baru ini mengungkapkan perasaan campur aduknya terkait keputusan Formula 1 untuk menghidupkan kembali Grand Prix Afrika di Rwanda. Pengumuman yang dibuat awal bulan ini memastikan kembalinya ajang balap jet darat ke benua hitam setelah Rwanda menyepakati kontrak berdurasi 10 tahun yang dijadwalkan mulai awal tahun 2030-an, menandai kembalinya F1 ke Afrika untuk pertama kalinya sejak tahun 1993 silam.

Kendati demikian, kabar gembira mengenai kembalinya ajang balap prestisius ini tidak lepas dari berbagai kontroversi pelik di luar lintasan. Sejumlah kelompok hak asasi manusia melayangkan tudingan tajam bahwa Formula 1 telah memberikan apa yang mereka sebut sebagai hadiah pencucian citra atau sports washing kepada pemerintah Rwanda melalui kesepakatan jangka panjang tersebut. Situasi geopolitik di kawasan tersebut semakin memanas setelah Republik Demokratik Kongo secara resmi mengajukan kasus hukum terhadap Rwanda awal tahun ini, dengan tuduhan bahwa negara tetangganya itu telah melanggar berbagai perjanjian internasional yang berlaku.

Pihak Republik Demokratik Kongo menyatakan dengan tegas bahwa Rwanda telah mengerahkan pasukan militer serta memberikan dukungan kepada kelompok bersenjata untuk melakukan operasi militer ilegal di wilayah kedaulatan mereka. Konflik bersenjata ini disebut-sebut sebagai dampak berkepanjangan yang berakar dari tragedi genosida Rwanda yang terjadi pada tahun 1994 silam. Di tengah desakan yang selama ini ia pimpin agar F1 segera kembali menggelar balapan di tanah Afrika, sang juara dunia tujuh kali justru menunjukkan sikap penuh kehati-hatian menjelang akhir pekan Grand Prix Amerika Serikat.

- Advertisement -
Advertisement

Dalam sesi konferensi pers resmi yang digelar di Austin pada hari Kamis, pembalap yang musim depan akan membela panji Ferrari tersebut memberikan pandangan mendalamnya. Tentu saja saya tidak punya kuasa untuk memilih ke mana kita pergi dan secara alami ada berbagai masalah di seluruh dunia saat ini, ujar Hamilton di hadapan para awak media yang meliput jalannya acara konferensi pers tersebut.

Saya telah melihat banyak pemberitaan, namun saya pikir kita benar-benar harus mendekatinya dengan kerendahan hati. Ada banyak hal yang tidak kita ketahui. Tumbuh besar di Inggris, mereka tidak pernah mengajarkan apa pun tentang Afrika kepada kami. Hal itu harus masuk ke dalam kurikulum pendidikan: banyak masalah yang mereka miliki di sana masih merupakan akibat dari kolonialisme dan intervensi pihak barat, tambahnya menguraikan akar permasalahan sejarah di benua Afrika.

Lebih lanjut, pembalap asal Inggris tersebut juga menyoroti potensi besar yang dimiliki oleh benua Afrika terlepas dari segala konflik dan bayang-bayang masa lalu yang kelam. Namun jika Anda melihat masyarakatnya, Anda melihat begitu banyak desain luar biasa yang hadir saat ini, merek-merek papan atas berasal dari Afrika dan benua ini memiliki seluruh sumber daya terkaya di dunia, tutur Stefano Domenicali yang merupakan CEO Formula 1 dan sempat menjadi sasaran lobi intensif sang pembalap selama bertahun-tahun.

Baca Juga Norris Bertahan Usai Stella Kecam Insiden Piastri di Singapura

Saya sangat berharap, dan saya masih memiliki harapan, agar Afrika bisa bersatu. Saya tahu ada banyak orang yang tidak menginginkan hal itu terjadi karena mereka akan menjadi begitu kuat jika mereka bersatu, tetapi saya tetap optimis bahwa pada suatu tahap nanti mereka akan mencapainya, ucap Hamilton dengan penuh keyakinan di sela-sela kesibukannya mempersiapkan akhir pekan balapan.

Tentu saja, pergi ke sana bukan berarti Anda mengabaikan hal-hal yang sedang terjadi di sana. Jadi mudah-mudahan banyak orang mulai mendidik diri mereka sedikit lebih banyak tentang apa yang sedang terjadi di sana, apa yang telah terjadi di sana selama ratusan tahun dan saya berharap itu memicu percakapan yang lebih luas, sambungnya menjelaskan pentingnya kesadaran global terhadap isu-isu kemanusiaan.

Sebagai penutup dari pernyataannya yang menyita perhatian publik dunia olahraga internasional tersebut, Hamilton menyampaikan seruan solidaritas global yang mencakup berbagai wilayah konflik di dunia. Saya kira saya akan mengakhirinya dengan: Saya pikir kita harus memastikan bahwa kita terus mendorong untuk membebaskan Kongo, membebaskan Sudan, membebaskan Suriah, membebaskan Palestina. Saya pikir ada banyak kedamaian yang saya harapkan pada suatu saat nanti bisa kita capai bersama, pungkasnya mengakhiri sesi tanya jawab.

Lewis Hamilton di paddock F1
Lewis Hamilton saat berbicara dalam konferensi pers jelang akhir pekan balap.