Kehadiran Jeremy Clarkson di Sirkuit COTA, Austin, Texas, dalam rangkaian akhir pekan Grand Prix Amerika Serikat kembali memicu kehebohan di dunia balap internasional. Mantan presenter acara otomotif ternama yang kini memandu program Clarkson's Farm tersebut hadir sebagai tamu kehormatan dari tim Alpine. Hubungan erat antara Clarkson dan skuad asal Enstone ini terjalin secara alami mengingat letak markas tim yang berada tidak jauh dari kediamannya di Oxfordshire, Inggris. Namun, wawancara tunggal yang dijalaninya bersama tim penyiaran Sky Sports F1 justru berujung pada perdebatan panas di kalangan para penggemar motorsport global.
Dalam sesi wawancara yang dipandu oleh Martin Brundle, Naomi Schiff, dan Simon Lazenby, Clarkson membahas berbagai topik menarik mulai dari dinamika paddock hingga pandangannya terhadap kehadiran pesohor dunia seperti Kim Kardashian di ajang balap jet darat. Salah satu pernyataan yang paling disorot adalah komentar candaannya mengenai hukuman penalti grid yang harus diterima oleh pembalap muda berbakat asal Argentina, Franco Colapinto. Sembari tertawa, Clarkson melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut bahwa sang pembalap mendapatkan hukuman karena berasal dari Argentina, sebelum mengaitkannya kembali dengan masa lalu kelamnya di negara tersebut.
Komentar tersebut langsung membangkitkan memori publik pada insiden kontroversial yang melibatkan Clarkson dalam program Top Gear satu dekade lalu. Pada tahun 2014, Clarkson bersama rekan-rekannya, Richard Hammond dan James May, melakukan perjalanan melalui kawasan Patagonia untuk sebuah episode khusus. Saat itu, mobil Porsche 928 yang dikendarai Clarkson menggunakan pelat nomor H982 FKL, yang oleh warga lokal dianggap sebagai bentuk referensi provokatif terhadap Perang Falklands tahun 1982. Protes keras langsung pecah di Ushuaia, memaksa kru produksi meninggalkan kendaraan mereka demi keamanan dan melarikan diri melewati perbatasan menuju Chile.
Meskipun pihak BBC secara tegas menyatakan bahwa pemilihan nomor pelat tersebut murni sebuah kebetulan semata dan tidak pernah disengaja untuk memicu kemarahan publik, luka lama tampaknya belum sepenuhnya hilang dari ingatan sang presenter senior. Kepada panel Sky Sports F1, Clarkson secara terbuka menyinggung insiden tersebut ketika membahas penalti yang dijatuhkan kepada Colapinto akibat penggunaan komponen unit kendali elektronik keempat musim ini. Sontak, pernyataan itu memecah opini para penggemar di media sosial, di mana sebagian menganggapnya sebagai lelucon khas gaya Britania yang sarkastik, sementara yang lain menilai komentar tersebut tidak pantas diucapkan dalam konteks olahraga profesional.
Baca Juga Perez Ingin Tiga Tahun Lagi di F1 bersama Proyek CadillacDi luar kontroversi tersebut, Clarkson juga menjelaskan alasan mendalam di balik dukungannya yang kuat terhadap tim Alpine F1 Team. Ia mengaku telah lama menjadi pendukung setia skuad Enstone sejak era keemasan Michael Schumacher, berlanjut ke masa kejayaan Fernando Alonso, tahun-tahun kepemimpinan Kimi Raikkonen, hingga kini mendukung kiprah Pierre Gasly. Kedekatan emosional itu semakin diperkuat oleh faktor lokal, di mana salah satu kerabat dari pekerja yang merawat hewan peliharaan di peternakannya merupakan karyawan pabrik Alpine, membuat Clarkson merasa menjadi bagian dari keluarga besar tim tersebut.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!