Akhir pekan balapan di Sirkuit Jalan Raya Marina Bay menyajikan tantangan tersendiri yang cukup berat bagi tim Mercedes. Dalam sesi krusial di Singapura, pendekatan teknis yang tidak biasa ditempuh oleh kubu panah perak dengan membagi spesifikasi mobil antara kedua pembalap mereka. George Russell turun ke lintasan dengan menggunakan spesifikasi kendaraan lama yang telah dipakai sejak Grand Prix Bahrain hingga Malaysia, sementara Kimi Antonelli dipercaya menguji paket evolusi terbaru di atas aspal Marina Bay.
Keputusan strategis tersebut didasari oleh keyakinan internal bahwa paket pengembangan anyar tersebut menyimpan potensi performa yang jauh lebih besar dibandingkan versi pendahulunya, meskipun belum dimanfaatkan secara optimal pada seri sebelumnya di Malaysia. Dengan membagi spesifikasi mobil, skuad asal Brackley ini berharap bisa mengumpulkan data perbandingan yang komprehensif. Namun, strategi ini langsung memunculkan kontras performa yang cukup mencolok di atas catatan waktu resmi sesi.
Sementara Russell mampu mengamankan posisi kedua tercepat dalam kualifikasi sprint berkat kemudahan adaptasi dengan mobil yang sudah teruji, pemuda berusia 20 tahun asal Bologna tersebut justru harus puas tertahan di posisi ketujuh. Perbedaan mencolok ini langsung memicu evaluasi mendalam di garasi tim, terutama menyangkut perilaku aerodinamika dan keseimbangan mekanis dari komponen baru yang dipasang pada kokpit mobil bernomor kemudi tersebut.
Menanggapi hasil yang kurang memuaskan ini, pembalap muda berbakat asal Italia itu tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya atas karakter kendaraan yang sulit dijinakkan. Mengutip langsung dari sesi wawancara, ia mengungkapkan kebingungannya terhadap respons sasis di atas lintasan jalan raya yang menuntut presisi tinggi. Saya sudah mengalami kesulitan sejak sesi latihan bebas dan mengakui bahwa mobil saat ini sangat tidak bisa diprediksi sehingga sangat sulit merangkai satu putaran bersih.
Baca Juga Piastri Terancam Penalti, Verstappen Spin di GP Inggris 2025Ia menambahkan bahwa situasi ini terasa sangat disayangkan mengingat ekspektasi awal yang diusungnya begitu tinggi menjelang lawatan ke Asia Tenggara ini. Berdasarkan temuan data sepanjang hari pertama, ia memprediksi sisa akhir pekan ini akan berjalan sangat berat tanpa adanya keajaiban instan. Jarak ketertinggalan tujuh sepersepuluh detik dari barisan terdepan membuatnya merasa kebingungan mencari area krusial untuk memangkas selisih waktu tersebut.
Kendati demikian, secercah harapan tetap disematkan kepada para teknisi di dalam garasi untuk menemukan solusi teknis sebelum sesi balapan berikutnya dimulai. Ia sangat berharap insinyur balapnya beserta seluruh kru dapat menemukan terobosan signifikan dalam semalam guna membuat karakter mobil menjadi jauh lebih ramah dikemudikan oleh pembalap.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!