Insiden menegangkan terjadi di jalur pit Sirkuit Sepang ketika Jack Miller tertangkap kamera televisi sedang meluapkan kemarahannya kepada para kru timnya. Pembalap asal Australia tersebut secara terbuka mengakui bahwa dirinya telah meminta maaf kepada seluruh anggota krunya setelah menunjukkan reaksi emosional yang meledak-ledak. Kemarahan tersebut dipicu oleh kondisi motor basah miliknya yang ternyata belum siap digunakan di tengah jalurnya balapan sprint Grand Prix Malaysia yang diwarnai cuaca tropis ekstrem.

Aksi spekulatif yang dilakukan oleh pembalap yang kini membela skuad Pramac Racing ini berawal ketika ia merasakan rintikan air hujan mulai membasahi visor helmnya pada lap-lap awal. Memutuskan untuk mengambil resiko besar dari posisi yang cukup tertinggal di barisan belakang, ia langsung memutuskan masuk ke area pit. Namun, situasi berubah menjadi kacau ketika ia mendapati kuda besi keduanya belum siap sedia menyambut kedatangannya, yang berujung pada hilangnya waktu berharga dan hilangnya kendali emosi di hadapan para mekanik.

Menjelaskan akar permasalahan insiden tersebut, pembalap bernomor start khas ini menyebutkan bahwa telah terjadi salah paham komunikasi antara dirinya dengan sang kepala mekanik, Giacomo Guidotti. Diskusi sebelum balapan mengenai kesiapan motor diterjemahkan secara berbeda oleh kedua belah pihak. Dalam benak sang pembalap, motor harus disiapkan seketika itu juga saat sinyal cuaca buruk muncul, sementara di sisi lain sang kru mengasumsikannya untuk kebutuhan beberapa putaran kemudian. Akibat miskomunikasi fatal ini, situasi di garasi tim mendadak menjadi sorotan tajam.

- Advertisement -
Advertisement

"Saya sempat ngobrol dengan Giacomo sebelum balapan, dan saya bilang, 'Siapkan motornya'. Dalam pikiran saya, itu artinya siapkan motor segera. Di pikiran dia, itu artinya empat atau lima lap kemudian. Jadi, ada miskomunikasi. Dan ya, sayangnya hari ini kami terlihat seperti orang bodoh," ungkap sang pembalap menggambarkan situasi yang terjadi di garasi tim satelit tersebut.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keputusan untuk masuk ke pitlane murni merupakan inisiatif pribadinya tanpa ada paksaan dari pihak lain. Melihat beberapa tetesan air di tikungan-tikungan tertentu sirkuit Sepang, ia langsung berspekulasi bahwa kondisi lintasan akan segera berubah drastis menjadi basah. Mengingat posisinya yang saat itu berada di luar zona angka, mengambil perjudian ekstrem dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar untuk memperbaiki keadaan di tengah perlombaan yang berjalan sulit.

Baca Juga Casey Stoner Ungkap Arti Penting Gelar Juara MotoGP Bersama Honda

"Itu sepenuhnya keputusan saya. Saya mendapat lima atau enam tetes air di visor pada tikungan 7 dan 8, lalu tikungan 9 dan 10... dan saya berpikir, 'Baiklah, lap berikutnya akan basah'. Di Malaysia, biasanya tikungan-tikungan itu selalu menjadi titik pertama tempat hujan turun. Jadi saya masuk lebih awal, toh kami berada di posisi ke-17 atau ke-18, jadi meraih poin tampaknya kecil kemungkinan," jelasnya secara rinci.

Meskipun sempat kehilangan kendali di hadapan para kru, suasana panas di garasi tidak berlangsung lama. Ia mengaku langsung mendinginkan kepala dan segera menjernihkan suasana dengan menemui kepala mekaniknya untuk meminta maaf secara langsung atas tindakan reaktif yang ia tunjukkan di depan kamera siaran langsung.

"Saya meminta maaf atas reaksi saya, tapi maksud saya, pada saat itu ketika Anda tiba di pit, Anda masih berada dalam balapan. Dan dalam pikiran saya, saya tidak akan membuat keputusan itu kecuali saya pikir itu valid," tambahnya. Pada akhirnya, keputusan untuk mengganti motor terbukti kurang tepat karena intensitas hujan tidak pernah turun secara masif hingga bendera finis dikibarkan, namun perjudian tersebut tetap dianggap sebagai langkah yang layak dicoba dalam situasi sulit.