Akhir pekan Formula 1 di Sirkuit Marina Bay menyuguhkan kontras yang tajam di garasi Red Bull Racing, di mana Isack Hadjar harus menghadapi kenyataan pahit setelah gagal mengamankan posisi start yang ideal untuk Sprint Race perdana di Singapura. Pembalap muda asal Prancis tersebut secara terbuka melontarkan penilaian suram usai sesi kualifikasi yang dipenuhi kendala teknis dan catatan waktu yang dihapus akibat pelanggaran batas lintasan, membuatnya harus puas memulai balapan dari posisi kesembilan di grid.
Situasi ini sangat kontras dengan rekan setimnya, Max Verstappen, yang justru tampil gemilang dan sukses mengamankan posisi pole position pertamanya di jalanan Marina Bay yang ikonik. Bagi Hadjar, hari Jumat yang awalnya menjanjikan berubah drastis menjadi mimpi buruk ketika ia kesulitan menemukan kecepatan kompetitif yang dibutuhkan untuk mengimbangi catatan waktu rekan setimnya yang mendominasi sesi tersebut.
Meskipun sempat menunjukkan kecepatan yang menjanjikan pada sesi latihan bebas pertama di atas kompon ban keras, performa mobil RB22 yang dikemudikannya mendadak berubah drastis menjelang sesi kualifikasi sore hari. Pembalap berusia 22 tahun itu mengakui bahwa dirinya merasa sangat nyaman pada awal hari, namun sensasi positif tersebut lenyap begitu saja ketika sesi penting dimulai dan mobilnya terasa sangat berbeda dari sebelumnya.
'Apa yang tampak sebagai awal hari yang baik berubah menjadi performa yang sangat buruk,' ungkap Hadjar dengan nada kecewa kepada media. Ia menambahkan bahwa dirinya merasa sangat nyaman langsung pada sesi FP1 dengan kompon ban keras, tetapi situasi tersebut tidak bertahan lama ketika kondisi lintasan dan temperatur berubah menjelang malam hari.
Kendala yang dihadapi oleh peraih dua podium pada musim 2026 ini bukan hanya sekadar masalah keseimbangan mekanis semata, melainkanakumulasi dari berbagai masalah teknis yang menggerus kepercayaan dirinya di atas kokpit. Dalam keterangannya, ia menjelaskan betapa sulitnya menjinakkan kendaraan di tikungan-tikungan lambat sirkuit jalan raya Singapura yang menuntut presisi tinggi dari setiap pembalap yang berlaga.
'Saya tidak pernah benar-benar mendapatkan satu lap yang baik, hanya berjuang melawan mobil, masalah mesin pada pelarian terakhir. Saya hanya kesulitan. Rasanya sangat aneh,' keluhnya menggambarkan betapa frustrasinya ia saat berada di balik kemudi pada saat-saat krusial sesi kualifikasi.
Baca Juga Hamilton Soroti Keterbatasan Ferrari: Defisit 0,6 Detik di Trek LurusKetika ditanya apakah pemilihan kompon ban lunak menjadi faktor utama yang menghambat performanya di sesi SQ3, sang pembalap langsung menepis spekulasi tersebut secara tegas. Ia menyadari bahwa kompon ban lunak memberikan cengkeraman yang jauh lebih baik dibandingkan kompon medium, namun hal itu tidak memberikan keuntungan khusus karena semua pembalap lain juga menggunakan spesifikasi ban yang sama di lintasan.
'Ban lunak terasa seperti lompatan besar dibandingkan kompon medium, jauh lebih banyak cengkeraman. Toh itu tidak menjadi masalah; yang lain juga menggunakan ban lunak,' jelasnya meluruskan anggapan miring tentang pemilihan strategi ban timnya.
Dengan posisi start dari baris kelima, tantangan berat kini menanti sang pembalap dalam upayanya merangsek ke barisan depan pada balapan sprint esok hari. Ia harus mampu memanfaatkan potensi kekacauan di tikungan-tikungan sempit Marina Bay demi mendulang poin krusial bagi tim dalam persaingan ketat perebutan gelar juara dunia konstruktor melawan rival terdekat mereka, McLaren.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!