Mantan Prinsipal Tim Red Bull, yang tidak disebutkan namanya secara spesifik dalam kutipan autobiografi terbarunya berjudul Drive, telah merinci kekhawatiran mendalam mengenai keputusan kontroversial yang pernah diambil oleh manajemen skuad berbasis di Milton Keynes tersebut. Ia berargumen secara tajam bahwa Liam Lawson seharusnya tidak pernah ditempatkan langsung di garasi utama untuk mendampingi Max Verstappen ketika sang pembalap muda masih minim pengalaman di kancah Formula 1.

Keputusan tersebut bermula ketika Liam Lawson dipilih secara mengejutkan untuk menggantikan Sergio Perez. Penunjukan itu dilakukan setelah ia baru mengantongi catatan 11 kali start grand prix sepanjang kariernya. Namun, pertaruhan besar ini berujung pada bencana internal karena Lawson hanya mampu bertahan selama dua balapan saja sebelum akhirnya didepak kembali ke tim saudara, Racing Bulls, akibat performa yang tidak sesuai harapan di bawah tekanan luar biasa.

Dalam pengungkapan bukunya, sang mantan prinsipal menjelaskan bahwa penasihat Red Bull, Helmut Marko, yang mengawasi program pembalap muda, memegang peran paling instrumental dalam memuluskan promosi Lawson meskipun ada keraguan besar dari pihak manajemen lain. Helmut Marko disebut sangat agresif memperjuangkan langkah tersebut, sementara sang kepala tim merasa sangat tidak nyaman dengan keputusan yang dianggap terlalu tergesa-gesa dan berisiko tinggi bagi karier sang atlet muda.

- Advertisement -
Advertisement

Helmut Marko telah memperjuangkan promosi tersebut, tetapi saya merasa tidak nyaman, tulis sang penulis dalam autobiografinya. Ia masih muda dan minim pengalaman, dengan hanya 11 balapan Formula 1 di bawah namanya, dan kami akan meminta terlalu banyak darinya, sementara di sisi lain Helmut sedang bermain-main. Sebelum balapan pemungkas musim 2024 di Abu Dhabi, Marko bahkan telah menginformasikan kepada Liam bahwa ia pasti akan membalap untuk Red Bull berkat pengaruh politiknya di internal tim.

Situasi semakin runyam ketika sang mantan prinsipal mencoba mengonfirmasi hal tersebut kepada Helmut Marko, namun yang bersangkutan justru menyangkal semua tindakan yang telah dilakukannya. Keputusan kontroversial itu langsung berantakan di lintasan balap sejak seri pembuka musim berikutnya, di mana Lawson mengalami kecelakaan fatal pada Grand Prix Australia sebelum hanya mampu finis di posisi ke-12 pada seri berikutnya di Tiongkok.

Baca Juga Lando Norris Akui Bersalah dan Minta Maaf Usai Insiden dengan Oscar Piastri

Melihat rentetan hasil buruk tersebut, Red Bull tidak punya pilihan selain segera mendepak Lawson dan menggantikannya dengan Yuki Tsunoda menjelang Grand Prix Jepang. Pembalap asal Selandia Baru itu pun terpaksa harus kembali menata ulang kepingan kariernya yang sempat hancur lebur di tim satelit. Merefleksikan kembali keputusan pahit itu, sang mantan petinggi tetap bersikeras bahwa akar dari segala masalah sebenarnya sudah terjadi bahkan sebelum Lawson menginjakkan kakinya di kokpit mobil utama.

Keputusan untuk memulangkan Liam ke Racing Bulls memang sangat berat baginya, tetapi ia sebenarnya tidak seharusnya dipromosikan sejak awal, tulis sang mantan bos. Di sisi lain, Liam Lawson sendiri sempat mengungkapkan bahwa ia merasa sangat terpukul dan sepenuhnya tidak menduga pemecatan kilat tersebut, mengingat ia sempat mengabaikan berbagai rumor negatif di luar karena masih menaruh kepercayaan penuh kepada manajemen tim.

Meski demikian, jalan karier Formula 1 memang penuh dengan kejutan tak terduga. Lawson belakangan sempat mendapatkan kesempatan kedua yang langka untuk kembali berseragam Red Bull musim ini tatkala ia harus menggantikan posisi Isack Hadjar yang menderita cedera selama tiga balapan beruntun. Pada kesempatan kedua ini, ia membuktikan kapasitasnya dengan finis ketujuh di Zandvoort dan keenam di Madrid, mengumpulkan total 14 poin krusial di bawah arahan suksesor sang mantan bos, Laurent Mekies, sebelum akhirnya kembali fokus memperkuat Racing Bulls di paruh musim kompetisi.