Pekan balap Formula 1 di Sirkuit Interlagos dipastikan akan menyuguhkan drama tingkat tinggi setelah dua juara dunia, Lewis Hamilton dan Max Verstappen, secara terbuka memperingatkan bahwa aksi menyalip akan menjadi jauh lebih sulit dibandingkan musim-musim sebelumnya. Tantangan besar ini mengadang menyusul keputusan kedua pebalap yang terpaksa mengambil komponen unit daya baru, sehingga harus melampaui batas alokasi regulasi musim ini.

Sebagai konsekuensi dari pergantian komponen tersebut, Hamilton yang kini membela Scuderia Ferrari harus rela memulai balapan utama Grand Prix Brasil dari barisan paling belakang, tepatnya di posisi ke-20. Sementara itu, rival utamanya dari Red Bull Racing, Verstappen, akan memulai perlombaan dari posisi ke-21. Keduanya hanya unggul satu posisi dari pebalap Cadillac, Sergio Perez, yang terpuruk di posisi ke-22 pada sesi kualifikasi yang berjalan di bawah bayang-bayang cuaca basah.

Secara historis, Sirkuit Interlagos dikenal sebagai salah satu lintasan yang ramah untuk melakukan aksi overtaking atau mendahului mobil lain, bahkan dari posisi start yang kurang menguntungkan. Rekam jejak membuktikan bagaimana Hamilton pernah merangsek naik untuk meraih kemenangan sensasional dari posisi ke-10 pada musim 2021, sementara Verstappen melakukan aksi magis serupa dengan melesat dari posisi ke-17 untuk memenangi balapan pada tahun 2024 lalu.

- Advertisement -
Advertisement

Kendati demikian, dinamika balap Formula 1 di bawah regulasi aerodinamika baru telah mengubah lanskap kompetisi secara drastis, terutama dengan hilangnya perangkat Drag Reduction System (DRS) dan digantikan oleh mode menyalip yang baru. Perubahan teknis krusial ini membuat para pebalap top dunia meyakini bahwa keajaiban dari lini belakang tidak akan semudah dulu untuk diulang di Sao Paulo.

Dalam sesi wawancara usai kualifikasi yang basah, Max Verstappen menjelaskan detail teknis mengenai mengapa lintasan lurus Interlagos tidak lagi memberikan keuntungan masif bagi mobil yang mencoba bangkit dari belakang. Menurut pebalap asal Belanda tersebut, efektivitas sistem baru sangat terbatas ketika seluruh kontestan berada dalam kondisi yang setara di area krusial.

Baca Juga Stewards F1 Rilis Aturan Baru GP Meksiko Usai Insiden Lap Pertama

"Mode menyalip tidak terlalu banyak membantu di sekitar sini. Semua orang menguras baterai mereka dari tikungan terakhir hingga Tikungan 1. Semua orang membuka sayap mereka," ujar Verstappen kepada Sky Sports F1. Ia menambahkan bahwa efeknya akan jauh lebih kecil dari biasanya, membuat pertarungan melawan mobil-mobil dengan catatan waktu lap yang serupa menjadi sebuah tembok tebal yang sulit ditembus.

Senada dengan sang juara bertahan, Lewis Hamilton juga membeberkan pandangan serupa mengenai hilangnya senjata utama pebalap saat mencoba melakukan manuver di trek lurus panjang Interlagos. Hilangnya keunggulan DRS individual membuat persaingan menjadi jauh lebih steril dan menuntut tingkat presisi yang luar biasa tinggi dari kokpit.

"Saya pikir akan lebih sulit. Karena dulu kita jelas memiliki trek lurus yang sangat panjang. Dan jika Anda mendekat, Anda memiliki DRS dan mungkin mobil di depan tidak memilikinya. Karena sekarang semua orang hanya membuka sayap mereka, saya pikir menyalip akan sangat, sangat, sangat sulit," ungkap Hamilton kepada media. Meski demikian, ia tetap membuka secercah harapan bahwa faktor cuaca yang basah berpotensi mengubah segalanya dan menciptakan variabel tak terduga di atas aspal.