LAMPUNG, Nusantara Media  – Aktivitas vulkanik di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan eskalasi. Gunung Anak Krakatau, yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, dilaporkan kembali mengalami erupsi pada Jumat malam, 9 Oktober 2026. Peristiwa alam ini terjadi tepat pada pukul 19:57 Waktu Indonesia Barat (WIB).

Berdasarkan laporan resmi yang diterbitkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), letusan kali ini memiliki karakteristik tersendiri. Kendati erupsi telah terjadi, tinggi kolom abu vulkanik dari kawah utama tidak dapat teramati oleh petugas pemantau. Kondisi ini umumnya terjadi akibat faktor cuaca di sekitar perairan, tutupan kabut, atau karena kurangnya pencahayaan alami pada malam hari yang membatasi jarak pandang visual ke arah puncak kawah.

Meski tidak terlihat secara kasat mata, bukti erupsi tersebut terekam dengan sangat akurat pada instrumen kegempaan. Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau mencatat bahwa letusan yang terjadi menjelang pukul delapan malam ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 53 milimeter. Adapun durasi gempa erupsi berlangsung cukup singkat, yakni selama kurang lebih 12 detik. Angka ini mengonfirmasi adanya pelepasan energi yang cepat dari dalam saluran magma, yang mencirikan aktivitas vulkanik aktif khas gunung berapi tersebut.

- Advertisement -
Advertisement

Menyikapi perkembangan data instrumental ini, PVMBG menegaskan bahwa Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih bertahan pada Status Level II atau Waspada. Tingkat aktivitas ini menandakan bahwa gunung api masih berada dalam fase fluktuatif dan berpotensi mengalami erupsi susulan sewaktu-waktu tanpa menunjukkan tanda-tanda pendahuluan yang signifikan.

Demi menjamin keselamatan publik, otoritas terkait telah mengeluarkan rekomendasi pembatasan aktivitas yang sangat tegas. Masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun para pendaki dilarang keras mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas apa pun di dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.

Baca Juga Babinsa Sigap Evakuasi Warga Terjebak Banjir di Desa Karang Jadi OKU Timur 8 Januari 2026

Peringatan ini menjadi pengingat krusial, terutama bagi para nelayan tradisional yang kerap mencari ikan di perairan sekitar Selat Sunda, serta para pelaku industri pariwisata bahari setempat. Radius 2 kilometer dari kawah ditetapkan sebagai zona bahaya utama yang paling rentan terkena dampak langsung apabila terjadi lontaran batu pijar, jatuhan abu vulkanik pekat, maupun pelepasan gas beracun dari kawah.

Sebagai salah satu gunung api paling aktif dan terus dipantau ketat di Indonesia, Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah pertumbuhan kubah dan aktivitas vulkanik yang sangat dinamis. Pemantauan selama 24 jam penuh terus dilakukan oleh petugas KESDM untuk memastikan setiap perubahan aktivitas dapat dilaporkan ke publik secepat mungkin.

Masyarakat luas diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing oleh informasi hoaks atau video-video lama yang sering kali beredar di media sosial saat terjadi erupsi. Warga diminta untuk selalu merujuk pada informasi dan peringatan dini resmi yang disiarkan oleh lembaga berwenang, seperti PVMBG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), atau dengan mengakses langsung aplikasi dan situs web MAGMA Indonesia.