Menyongsong akhir pekan penentuan gelar juara dunia Formula 1 2026 yang krusial di Mexico City, George Russell melirik kembali perjalanan panjang dan penuh liku yang harus ia hadapi sepanjang musim ini. Pembalap asal Inggris tersebut mengakui bahwa dirinya belum pernah mengalami kampanye balap yang begitu ekstrem, di mana performa mobil W17 kerap menjanjikan kemenangan besar namun di saat bersamaan kerap merenggut peluangnya secara tiba-tiba.

Musim 2026 bagi Russell diwarnai oleh kontras yang tajam antara kejayaan tertinggi dan keterpurukan yang membingungkan. Tercatat, ia harus menderita lima kali gagal finis atau DNF yang membuatnya tertinggal 123 poin di belakang rekan setimnya sendiri, Kimi Antonelli. Pembalap muda asal Italia tersebut kini berada di ambang sejarah, hanya membutuhkan finis di posisi kesembilan pada balapan hari Minggu untuk mengukuhkan diri sebagai juara dunia termuda sepanjang sejarah ajang balap jet darat ini.

Situasi pelik ini memaksa Russell merenungkan kembali bagaimana musim yang dibuka secara gemilang melalui kemenangan dominan di Australia justru berubah menjadi spiral inkonsistensi yang melelahkan seiring bergulirnya kalender balap. Berbicara kepada awak media termasuk Motorsport Week menjelang dimulainya rangkaian Grand Prix Meksiko, sang pembalap menegaskan bahwa konsistensi adalah hal utama yang paling ia rindukan dan sangat kurang ia miliki sepanjang tahun ini.

- Advertisement -
Advertisement

'Yah, saya pikir ini tentu sangat penting bagi saya untuk mencoba mendapatkan konsistensi,' ujar Russell menggambarkan kebingungannya. 'Beberapa balapan lalu, kami meraih pole dengan keunggulan delapan persepuluh detik dan memenangkan balapan. Lalu, minggu lalu, saya finis di posisi P8, dan saya belum pernah mengalami musim seperti ini dalam karier saya di mana performa berfluktuasi begitu hebat. Saya tahu potensinya ada di sana karena Anda tidak dapat memberikan penampilan seperti itu di Baku jika Anda kehilangan kemampuan. Hanya saja kami kesulitan untuk mendapatkan tingkat keberhasilan yang tinggi.'

Ketidakpastian performa ini memang menjadi teka-teki terbesar bagi garasi tim. Russell mencontohkan bagaimana ia bisa tampil sangat superior di satu akhir pekan—seperti menyapu bersih sesi latihan dan meraih pole di Barcelona serta mendominasi di Baku—namun langsung kesulitan dan terlempar di sesi kualifikasi pada seri berikutnya, seperti yang terjadi di Malaysia. Keadaan ini membuatnya merasa sangat frustrasi karena ketiadaan jawaban pasti mengenai akar permasalahan fluktuasi mobil.

Baca Juga GP Amerika Serikat Jadi Titik Balik Krusial Menuju F1 2027

'Jika kami memiliki jawabannya, kami mungkin akan dapat mereplikasinya lebih sering,' tambahnya. 'Itu telah menjadi bagian dari tantangan tahun ini, beberapa kebingungan yang ada. Saya keluar dari Monaco awal tahun ini, dan itu adalah akhir pekan yang sangat sulit bagi saya. Saya pergi ke Barcelona dan menjadi yang tercepat di setiap sesi dan meraih pole. Pergi ke Austria, balapan berikutnya, saya meraih pole lagi. Lalu, beberapa balapan kemudian, saya lolos di P5 dan P6. Di Baku, meraih pole dengan selisih delapan persepuluh detik.'

Membandingkan situasi saat ini dengan masa lalu, Russell menyoroti betapa konsisten dirinya dalam memaksimalkan potensi kendaraan pada tahun-tahun sebelumnya. Ia mengenang musim 2022 di mana ia berhasil finis di posisi lima besar lebih sering dibandingkan pembalap lainnya di grid, yakni 19 kali dari 22 balapan meski saat itu hanya mengendarai mobil terbaik ketiga. Kini, situasi berbalik drastis, memaksanya bekerja ekstra keras menemukan stabilitas demi menutup musim 2026 dengan catatan positif.