Ajang balap Supercars baru-baru ini dihebohkan oleh perbincangan hangat di kalangan paddock menyusul insiden pada tahap akhir balapan hari Minggu. Sejumlah tanda tanya besar mulai bermunculan ketika dua pembalap dari tim Chevrolet yang berbeda secara mendadak melakukan pit stop darurat untuk pengisian bahan bakar saat balapan tinggal menyisakan beberapa putaran terakhir. Keputusan tak terduga ini langsung mengubah jalannya kompetisi dan memicu berbagai spekulasi liar di antara para pengamat serta rival di lintasan.

Kedua pembalap yang terlibat dalam insiden tersebut adalah Jarrod Hughes yang membalap untuk skuad Erebus, serta Cooper Murray dari tim PremiAir. Keduanya terpaksa masuk ke jalur pit saat sedang menempati posisi sepuluh besar yang cukup aman, sebuah keputusan krusial yang akhirnya membuat posisi mereka merosot jauh ke belakang di barisan rombongan. Keputusan kontroversial ini pada akhirnya justru memberikan keuntungan strategis yang sangat besar bagi pembalap lain, yakni De Pasquale, di mana tambahan posisi tersebut memastikan dirinya berhasil melompati perolehan pembalap Toyota, Ryan Wood, guna mengamankan tiket terakhir menuju babak Final di Sandown.

Situasi di lintasan semakin memanas mengingat sebelumnya tim pabrikan Toyota, Walkinshaw TWG Racing, juga melakukan instruksi internal dengan menukar posisi antara Wood dan rekan setimnya, Mostert, meskipun saat itu Mostert sedang memimpin dengan keunggulan jarak sekitar 10 detik di depan. Langkah kontroversial dari kubu Toyota tersebut dilakukan demi memberikan peluang terbaik bagi Wood untuk melaju ke babak berikutnya. Berdasarkan regulasi resmi Supercars, setiap tim sebenarnya diperbolehkan untuk mengatur ulang posisi pembalap mereka sendiri, namun pihak ketiga seperti pabrikan dilarang keras untuk memberikan instruksi tim atau team orders dalam bentuk apa pun yang dapat memengaruhi hasil perlombaan secara tidak sah.

- Advertisement -
Advertisement

Aturan yang sangat ketat ini menyiratkan bahwa apabila pabrikan General Motors terbukti meminta Erebus dan PremiAir Racing untuk melakukan pit stop secara sengaja dan tidak perlu, tindakan tersebut merupakan pelanggaran hukum balap yang serius. Menanggapi situasi panas ini, pihak penyelenggara Supercars langsung bergerak cepat untuk mendinginkan suasana dengan memprioritaskan pemeriksaan bahan bakar pada mobil Camaro milik Hughes dan Murray guna memastikan bahwa pit stop di pengujung balapan tersebut benar-benar didasari oleh kebutuhan teknis yang mendesak, bukan rekayasa taktis.

Baca Juga Feeney Tercepat di Gold Coast, Masalah Mesin Hantam Payne

Bos Supercars General Motors, Simon McNamara, dengan tegas menepis segala tudingan miring yang menyebutkan adanya praktik manipulasi hasil balapan yang melibatkan pihak pabrikan. Dalam pernyataannya kepada media, McNamara menegaskan bahwa tuduhan mengenai instruksi tim ilegal tersebut sama sekali tidak berdasar dan jauh dari kebenaran yang terjadi di lapangan. "Itu sangat mudah, tidak," ujar McNamara saat memberikan tanggapan resminya mengenai berbagai rumor miring yang beredar di paddock. Ia menambahkan bahwa tidak ada bentuk manipulasi apa pun, seraya menegaskan bahwa situasi mereka sangat berbeda dengan skenario tukar posisi di mana mobil melambat secara sengaja agar orang lain bisa mendahului. Meski mengakui hari itu berjalan sulit tanpa ada mobil yang finis di posisi sepuluh besar, McNamara tetap bersyukur karena satu mobil mereka berhasil lolos ke fase berikutnya.