Rencana Formula 1 untuk kembali ke benua Afrika pada awal tahun 2030-an melalui pembangunan sirkuit baru di Rwanda telah menuai sorotan tajam dari berbagai pihak. Kesepakatan bersejarah ini menandai kembalinya ajang balap jet darat tersebut ke benua hitam untuk pertama kalinya sejak tahun 1993, sekaligus menjadi Grand Prix mandiri pertama yang diselenggarakan di wilayah tersebut tanpa bergantung pada bendera negara tertentu di masa lalu. Keputusan ini sebelumnya disambut dengan antusiasme yang tinggi, termasuk memenuhi impian jangka panjang dari pembalap bintang Lewis Hamilton yang selalu berkeinginan untuk berlomba di Afrika sebelum menutup karier balapnya.
Kendati demikian, penunjukan Rwanda sebagai tuan rumah tunggal langsung memicu perdebatan panas terkait representasi geografis dalam kalender balap internasional. Selama ini, negara yang paling diunggulkan untuk menggelar kembali balapan F1 di Afrika adalah Afrika Selatan, yang pernah menjadi tuan rumah secara turun-temurun selama beberapa dekade di masa lampau. Namun, berbagai ambisi untuk menghidupkan kembali GP di sirkuit legendaris Kyalami maupun wacana menggelar balapan jalan raya di Cape Town selalu menemui jalan buntu dan berakhir tanpa hasil yang konkret.
Proporsi pembagian jatah seri balapan di berbagai belahan dunia yang dinilai tidak adil ini memicu reaksi keras dari Menteri Olahraga, Kesenian, dan Kebudayaan Afrika Selatan, Gayton McKenzie. Ia melontarkan kritik pedas terhadap keputusan pembatasan jumlah balapan untuk wilayah benua Afrika. Dalam sebuah sesi taklimat media yang dilansir oleh IOL, ia mempertanyakan logika di balik kebijakan pembagian slot balapan global saat ini.
"Apa bentuk pemikiran seperti itu? Karena Afrika memiliki 54 negara, apakah adil jika Amerika Serikat mendapatkan tiga balapan, Eropa mendapatkan sembilan, dan Timur Tengah mempunyai empat balapan?" ujar McKenzie dengan nada penuh kekecewaan menanggapi dominasi wilayah lain di kalender balap utama dunia.
Lebih lanjut, McKenzie secara terbuka menentang gagasan bahwa benua Afrika hanya layak dan cukup diwakili oleh satu balapan tunggal di Rwanda saja. Ia bahkan tetap optimistis bahwa Afrika Selatan masih memiliki peluang besar untuk menyelenggarakan kejuaraan dunia sendiri pada rentang tahun 2028 atau 2029 mendatang, jauh sebelum rencana proyek di Rwanda sepenuhnya terealisasi di awal dekade 2030-an.
Baca Juga Verstappen Sindir Russell Usai Insiden Kualifikasi GP BelandaMcKenzie menegaskan bahwa dirinya menolak keras cara pandang yang dianggapnya terlalu sempit dalam melihat potensi pasar dan kapasitas benua Afrika. Ia menambahkan, "Sekarang Anda ingin seluruh benua yang terdiri dari 54 negara hanya memiliki satu balapan saja? Saya tidak bisa berdebat dengan orang-orang yang memiliki pola pikir minimalis, pola pikir yang kalah, bahwa Afrika seharusnya hanya memiliki satu balapan. Sementara Eropa memiliki sembilan, Amerika Serikat tiga, dan Timur Tengah mendapatkan empat."
Meskipun melayangkan kritik tajam terhadap distribusi kalender balap, McKenzie dengan cepat memberikan klarifikasi bahwa tidak ada sentimen negatif atau rasa iri yang ditujukan kepada pihak Rwanda. Ia justru menilai keberhasilan Rwanda dalam mengamankan fasilitas lintasan baru yang sedang dibangun tersebut dapat memperkuat posisi tawar Afrika Selatan untuk turut serta menjadi tuan rumah pendamping di masa depan.
"Sekarang kami sangat senang dengan Rwanda, hal itu membantu misi kami untuk memastikan bahwa Afrika benar-benar memiliki Formula 1," ungkap McKenzie menutup pernyataannya. Ia juga berpesan kepada publik agar tidak memandang situasi ini sebagai bentuk kekalahan kompetitif antarsungai di benua yang sama, seraya memastikan bahwa kehadiran Rwanda tidak mengganggu fokus dan dokumen perencanaan strategis negaranya.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!