Formula 1, Nusantara Media - Federasi Automobil Internasional (FIA) mengakui bahwa penyusunan regulasi mesin Formula 1 2026 merupakan proses kompleks yang harus menyeimbangkan kepentingan berbagai pihak, mulai dari pembalap hingga pabrikan besar.
Direktur teknis single-seater FIA, Nikolas Tombazis, menyebut bahwa badan pengatur berada dalam posisi “sangat sulit” karena harus memenuhi ekspektasi banyak pemangku kepentingan dalam olahraga ini.
Regulasi baru 2026 menghadirkan perubahan signifikan dengan distribusi tenaga 50:50 antara mesin pembakaran internal dan sistem elektrifikasi. Angka ini meningkat drastis dibandingkan musim 2025 yang masih didominasi mesin konvensional dengan rasio 80:20.
Perubahan tersebut menuntut manajemen energi yang jauh lebih kompleks sepanjang lap, dan memicu kritik dari sejumlah pembalap, termasuk juara dunia empat kali Max Verstappen, yang menyebut konsep baru tersebut sebagai “anti-racing” dan menyerupai “Formula E on steroids”.
Di balik kritik tersebut, Tombazis menjelaskan bahwa regulasi tidak hanya dirancang untuk aspek olahraga, tetapi juga mempertimbangkan daya tarik bagi produsen otomotif global. Hal ini terbukti dengan masuknya berbagai pabrikan besar seperti Audi, Honda, hingga proyek baru dari Cadillac dan General Motors.
Selain itu, Red Bull juga kini mengembangkan power unit sendiri melalui kemitraan dengan Ford, menandai era baru dalam kompetisi teknis di Formula 1.
“Kita harus ingat bahwa olahraga ini memiliki banyak pemangku kepentingan. Pembalap sangat penting, tetapi kita juga harus mempertimbangkan pabrikan besar yang berinvestasi,” ujar Tombazis.
Ia menambahkan bahwa proses perumusan regulasi merupakan persamaan yang tidak mudah diselesaikan, mengingat kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara aspek kompetitif, hiburan, dan kepentingan industri.
“Ini seperti berjalan di atas tali yang sangat tipis. Anda harus memuaskan penonton, pembalap, dan juga pihak yang menginvestasikan ratusan juta hingga miliaran dolar.”
Menurutnya, FIA telah menyelesaikan sebagian besar pengembangan regulasi, namun masih menyisakan ruang untuk penyempurnaan menjelang implementasi penuh.
“Kami sudah menyelesaikan sekitar 90 persen pekerjaan, dan masih ada 10 persen penyesuaian yang siap kami lakukan.”
Tombazis juga mengakui bahwa dari sudut pandang pembalap, pendekatan yang lebih sederhana mungkin terasa lebih ideal. Namun, realitas industri otomotif dan tren global menjadi faktor utama dalam arah pengembangan Formula 1 modern.
Dengan masuknya lebih banyak pabrikan dan meningkatnya kompleksitas teknologi, regulasi 2026 dipandang sebagai kompromi antara performa balap dan relevansi industri, yang akan terus dievaluasi seiring berjalannya musim.
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!