Insiden pit stop yang melibatkan pembalap Jarrod Hughes dari tim Erebus dan Cooper Murray dari PremiAir Racing pada balapan hari Minggu lalu akhirnya memicu penjelasan mendalam dari manajemen tim. Kedua pembalap tersebut terpaksa melakukan pemberhentian ketiga kalinya untuk mengisi bahan bakar di fase akhir lomba, ketika mereka sedang berjuang di dalam posisi sepuluh besar. Tambahan pit stop krusial ini secara tidak langsung memberikan keuntungan poin bagi pembalap Chevrolet lainnya, yaitu Anton De Pasquale dari Team 18, yang kemudian sukses mengamankan tiket menuju babak Semi-Final Sandown.

Situasi pelik di lintasan tersebut sontak memicu berbagai spekulasi liar di paddock dan media sosial. Sejumlah pihak melontarkan dugaan bahwa pit stop ekstra tersebut telah diatur secara sengaja oleh General Motors untuk kepentingan strategi tertentu, sebuah tindakan yang jelas-jelas merupakan pelanggaran berat terhadap regulasi resmi ajang Supercars. Namun, otoritas Supercars dengan cepat melakukan investigasi dan mengonfirmasi bahwa kedua mobil memang benar-benar kehabisan bahan bakar sehingga membutuhkan pit stop ketiga agar bisa mencapai garis finis. Baik pihak pabrikan maupun kedua tim yang terlibat secara tegas membantah keras adanya konspirasi yang telah direncanakan sebelumnya.

Team 18 sempat memberikan klarifikasi bahwa kekurangan bahan bakar yang mereka alami pada ajang Bathurst 1000 disebabkan oleh gangguan pada sistem perangkat lunak atau software error. Sementara itu, bos tim Barry Ryan memberikan pembelaan terbuka dan menjelaskan bahwa insiden yang menimpa kubunya murni merupakan kesalahan manusia yang tidak disengaja terkait pembacaan tabung pengukur pada menara bahan bakar tim. Dalam balapan level tertinggi, setiap detail kecil memegang peranan krusial, dan kesalahan kalkulasi sekecil apapun langsung berdampak besar pada strategi di lintasan.

- Advertisement -
Advertisement

Dilansir dari Speedcafe, Ryan merinci kronologi kesalahan teknis tersebut secara terbuka kepada publik untuk meredam berbagai tuduhan miring. Tim biasanya menandai tabung pengukur sesuai dengan jumlah bahan bakar yang ingin dimasukkan pada setiap pit stop, yang berfungsi sebagai panduan visual bagi petugas pengisian untuk menghentikan aliran bahan bakar. "Itu adalah kesalahan oleh petugas data kami. Kami tidak memasukkan bahan bakar yang cukup pada pit stop kedua," ujar Ryan menceritakan insiden tersebut dengan transparan.

Baca Juga Bebek Liar Picu Tabrakan Unik Antar Juara Supercars di Bathurst

Lebih lanjut, Ryan menjelaskan detail kesalahan operasional di dalam garasi yang berujung pada kepanikan strategi di pengujung lomba. "Ada skala pada menara bahan bakar dan petugas data tersebut mengarahkannya ke 70 liter alih-alih 80 liter. Itu adalah kesalahan yang sederhana dan jujur, dan saya garansi dia tidak akan mengulanginya lagi," tambah Ryan. Ia juga menyayangkan reaksi keras dari berbagai pihak luar yang langsung menghakimi tanpa memahami tekanan mental yang harus dihadapi oleh para kru muda di garasi tim.

Di balik insiden kontroversial tersebut, performa Jarrod Hughes sepanjang akhir pekan mendapatkan apresiasi tinggi dari sang kepala tim. Tampil sebagai debutan dalam ajang Supercars dengan format single-driver, Hughes mampu menunjukkan kapasitas kompetitifnya dengan bertengger di posisi kelima sebelum terhambat masalah bahan bakar. "Jarrod melakukan pekerjaan yang luar biasa," puji Ryan mengenai penampilan impresif sang pembalap muda yang sebelumnya juga berhasil menembus sesi Top 10 Shootout di tengah kondisi lintasan yang basah.