Perjalanan karier seorang pebalap profesional tidak pernah lepas dari bayang-bayang risiko ekstrem yang dapat merenggut segalanya dalam hitungan detik. Pengalaman pahit tersebut dirasakan secara langsung oleh Danilo Petrucci, pebalap asal Italia yang telah malang melintang di berbagai ajang balap bergengsi dunia mulai dari MotoGP hingga Superbike. Dalam sebuah wawancara eksklusif yang dilansir dari Speedweek, Petrucci membuka lembaran masa lalu mengenai kecelakaan-kecelakaan mengerikan yang hampir mengakhiri hidup serta karier olahraganya di lintasan balap.
Salah satu titik nadir dalam hidupnya terjadi pada 11 April 2024 silam, di mana ia mengalami insiden horor ketika sedang menjalani sesi latihan motocross di Cingoli. Mengenang momen menegangkan tersebut, Petrucci menceritakan dampak fisik parah yang harus ia derita akibat benturan keras dengan tanah. "Damals sind ein paar Zahne herausgebrochen und der Kiefer war in Teilen. Dazu hatte ich Bruche im Schlusselbein und Schulterblatt," ujarnya menggambarkan kerusakan parah pada tubuhnya, yang jika ditarik dalam terjemahan bebas berarti beberapa gigi tanggal, rahang hancur sebagian, serta patah tulang selangka dan tulang belikat.
Meskipun mampu bangkit secara ajaib dan kembali menunggangi motor Ducati miliknya untuk meraih serangkaian podium fantastis di musim tersebut, cobaan berat kembali menghantam fisik pebalap berjuluk Petrux ini menjelang akhir musim berikutnya. Menjelang penutupan kejuaraan, ia mengalami kecelakaan saat melakukan latihan kekuatan yang mengakibatkan tangan kanannya mengalami retak parah di beberapa bagian. Akibat insiden tersebut, ia harus rela merelakan balapan penutup musim dan membawa pulang kenang-kenangan medis permanen di tubuhnya. "In dieser Hand habe ich heute noch drei Platten und 28 Schrauben," ungkapnya, menegaskan bahwa tangan kanannya kini ditopang oleh tiga buah plat metal dan 28 sekrup penahan.
Puncak dari segala ketakutan psikologis dan fisik pebalap senior ini terjadi pada musim balap berikutnya ketika ia memperkuat pabrikan BMW. Berbagai kendala teknis akibat cuaca buruk ditambah cedera susulan di Most membuat mental petarungnya diuji hingga batas maksimal. Ia bahkan sempat diliputi ketakutan luar biasa akan kehilangan fungsi kedua kakinya akibat akumulasi cedera di bagian paha, tulang ekor, hingga pembengkakan parah yang mengharuskannya mengeluarkan cairan darah dalam jumlah masif dari tubuhnya. Penderitaan bertubi-tubi ini membuatnya sampai pada titik refleksi mendalam mengenai arti rasa takut bagi seorang atlet profesional di usia yang tidak lagi muda.
Baca Juga Bulega Ungguli Sam Lowes pada Sesi Warm-up Jerez WorldSBKRefleksi jujur mengenai sisi gelap dunia balap motor ini diungkapkan Petrucci dengan penuh kepedihan batin setelah bertahun-tahun berkutat dengan meja operasi dan proses pemulihan yang melelahkan. Di usianya yang menginjak 36 tahun, ia menyadari bahwa persepsi seorang pebalap terhadap risiko telah mengalami pergeseran drastis dibandingkan saat usia muda. "Wenn du auf dem Motorrad Angst hast – das ist keine Arbeit, wie fur einen normalen Angestellten," tutur Petrucci, menyimpulkan bahwa ketika rasa takut mulai merayap di atas motor, maka esensi dari balapan itu sendiri telah hilang dan profesi tersebut tidak lagi sekadar pekerjaan biasa layaknya pegawai kantoran pada umumnya.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!