Mantan pembalap Daniel Ricciardo akhirnya membuka suara secara mendalam mengenai akhir perjalanan kariernya di ajang Formula 1. Dalam siniar F1 Beyond the Grid, pembalap asal Australia tersebut menceritakan sisi gelap dan pergulatan batin yang ia rasakan setelah memutuskan untuk gantung helm, sebuah fase transisi yang ternyata jauh lebih berat daripada yang terlihat di muka publik.

Perjalanan karier Ricciardo di grid Formula 1 dimulai sejak tahun 2011 dan berlangsung hingga keputusannya pensiun pada tahun 2024. Selama lebih dari satu dekade berkompetisi, ia menjelma menjadi salah satu sosok paling ikonik dan dicintai oleh para penggemar di seluruh dunia. Dikenal dengan julukan The Honey Badger serta popularitasnya yang meroket seiring kesuksesan serial dokumenter Drive to Survive, ia mencatatkan delapan kemenangan Grand Prix dan 24 podium sepanjang kariernya.

Masa kejayaan terbesar Ricciardo diraih saat ia berseragam Red Bull Racing, di mana ia sukses mengamankan kemenangan ikonik di Monako. Namun, jalan kariernya kemudian berubah drastis setelah ia memutuskan meninggalkan tim yang berbasis di Milton Keynes tersebut demi mencari tantangan baru. Kepindahannya ke McLaren justru menjadi periode yang penuh kesulitan, di mana ia kesulitan menemukan performa terbaiknya meskipun sempat menyumbangkan satu kemenangan emosional di Sirkuit Monza.

- Advertisement -
Advertisement

Setelah meninggalkan McLaren dan sempat kembali sebentar bersama Racing Bulls, Ricciardo akhirnya benar-benar meninggalkan ajang balap jet darat usai Grand Prix Singapura 2024. Beban ekspektasi tinggi yang ia letakkan pada pundaknya sendiri selama bertahun-tahun menjadi bumerang ketika performanya mulai menurun. Ia mengungkapkan bagaimana sifat kompetitif yang telah ia bangun sejak kecil membuatnya sangat keras pada diri sendiri, hingga berujung pada rasa bersalah yang mendalam ketika harus meninggalkan olahraga yang sangat dicintainya.

Baca Juga Peluang Juara Dunia F1 Perdana, Kimi Antonelli Bidik Kemenangan di Austin

“Saya pikir pandangan saya saat itu adalah saya gagal, tidak tampil pada level yang saya butuhkan pada saat itu atau tidak dapat menyelesaikan musim atau apa pun. Rasanya ada rasa malu, seperti saya gagal dan saya tidak melakukan apa yang dulunya bisa saya lakukan,” ujar Ricciardo dalam siniar tersebut. Ia juga menambahkan bagaimana ia mencoba menutupi rasa sakit tersebut dari pandangan publik dengan berpura-pura menikmati hidup, padahal di dalam dirinya ia menyimpan kesedihan yang teramat sangat karena mimpinya untuk meraih gelar juara dunia Formula 1 telah pupus.