Akhir pekan balapan yang seharusnya menjanjikan bagi Isack Hadjar di ajang Formula 1 berubah menjadi sebuah mimpi buruk yang panjang di Sirkuit Jalan Raya Marina Bay. Pembalap muda asal Prancis tersebut secara terbuka menyatakan bahwa pandangannya terhadap format akhir pekan sprint telah berubah drastis setelah mengalami serangkaian masalah teknis dan kendala pengaturan mobil yang pelik sepanjang Grand Prix Singapura.

Masalah yang menerpa pembalap Red Bull Racing ini bermula sejak sesi latihan bebas pertama (FP1). Ia mengeluhkan masalah dasar mobil yang terlalu sering menghantam permukaan trek, terutama saat melakukan pengereman keras. Catatan waktunya pun terpaut cukup jauh, yakni tujuh persepuluh detik lebih lambat dibandingkan rekan setimnya yang tampil dominan, Max Verstappen, menunjukkan betapa sulitnya ia menemukan keseimbangan optimal pada kendaraannya.

Situasi tidak kunjung membaik ketika memasuki sesi kualifikasi sprint. Meskipun mampu menembus babak SQ3, Hadjar merasa bahwa dirinya tidak pernah mendapatkan satu putaran yang bersih dan kompetitif. Ia mengaku sepanjang sesi tersebut hanya berjuang keras untuk mengendalikan mobilnya agar tetap berada di jalur yang benar tanpa bisa memaksimalkan potensi kecepatan yang sesungguhnya dimiliki oleh perangkat balap miliknya di atas lintasan.

- Advertisement -
Advertisement

Puncak dari kekecewaan tersebut hadir ketika serangkaian kegagalan komponen teknis mulai menghantam mobilnya secara berturut-turut. Mulai dari masalah unit daya pada sesi latihan, kerusakan girboks gigi keempat saat kualifikasi utama, hingga kendala powertrain lanjutan yang membuatnya hanya mampu finis di posisi kesepuluh dalam balapan utama jarak penuh. Keterbatasan waktu akibat format sprint membuat tim tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk memperbaiki masalah set-up yang krusial.

Baca Juga F1 Bahrain GP 2026 Digelar di Malaysia, Apple TV Siarkan Gratis

"Itulah masalahnya dengan akhir pekan seperti ini di mana Anda tidak bisa bekerja pada mobil. Seperti, itu tidak mungkin. Anda hanya perlu sedikit beruntung. Tidak ada pekerjaan," keluh pembalap berusia 22 tahun itu setelah sesi kualifikasi. Ia menambahkan bahwa minimnya sesi latihan membuat tim kesulitan melakukan evaluasi mendalam, terlebih ketika mobil terasa sangat buruk untuk dikendalikan di atas trek jalan raya yang sempit dan menuntut tingkat konsentrasi tinggi.

Menatap masa depan Formula 1 di mana jumlah akhir pekan sprint akan terus bertambah dari enam balapan musim ini menjadi sepuluh balapan pada tahun 2027, Hadjar melontarkan kritik tajam terhadap para pembuat kebijakan. Ia bahkan mempertanyakan keputusan untuk menghadirkan balapan sprint di sirkuit jalan raya yang terkenal sulit untuk melakukan aksi salip-menyalip seperti Monako, sebuah langkah yang menurutnya sama sekali tidak akan meningkatkan kualitas tontonan bagi para penggemar balapan jet darat di seluruh dunia.