Masa depan salah satu ajang balap paling ikonik di kalender kejuaraan reli dunia kini berada di ujung tanduk setelah Rally Sweden AB, perusahaan yang mengelola ajang tersebut, dilaporkan berada di ambang kebangkrutan menyusul tumpukan utang yang mencapai jutaan krona. Berdasarkan laporan dari surat kabar setempat, situasi finansial perusahaan penyelenggara memburuk secara signifikan setelah mencatatkan kerugian besar selama beberapa musim berturut-turut. Kondisi ini memaksa para auditor turun tangan untuk menghentikan praktik keuangan yang dinilai tidak sehat, di mana dana hibah yang seharusnya dialokasikan untuk penyelenggaraan tahun berjalan justru kerap digunakan untuk menutup kerugian tahun sebelumnya.
Pemerintah Kota Umea sebelumnya telah mengucurkan dana hibah senilai jutaan krona selama beberapa tahun terakhir guna menjaga kelangsungan hidup ajang balap salju tersebut. Namun, investigasi dan intervensi dari para auditor mengungkap bahwa defisit keuangan yang dialami penyelenggara membengkak hingga mencapai angka sekitar 16 juta kronor atau setara dengan kurang lebih 1,5 juta euro. Situasi pelik ini memicu kritik tajam dari kalangan internal pengurus, yang berujung pada mundurnya sejumlah tokoh penting dari struktur kepengurusan perusahaan maupun federasi olahraga otomotif nasional.
Peggy Dicksdotter Hermansson dan Janne Rydh tercatat sebagai dua pejabat penting yang mengambil keputusan tegas untuk mengundurkan diri dari jajaran direksi perusahaan sekaligus melepaskan posisi mereka di dewan Swedish Automobile Sports Federation (SBF). Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk pertanggungjawaban moral atas carut-marut pengelolaan finansial yang terjadi. Dalam pernyataan resminya kepada media, Peggy Dicksdotter Hermansson secara terbuka mengakui kelemahan manajerial yang melanda tubuh organisasi dalam mengelola entitas bisnis sebesar itu.
“Itu menjadi jelas bahwa kami tidak mahir dalam menjalankan perusahaan. Kami tidak memiliki keahlian yang memadai. Angka-angka dalam laporan keuangan juga menunjukkan hal tersebut. Defisit Rally Sweden sebesar 16 juta kronor adalah hal yang sepenuhnya tidak masuk akal,” ujar Peggy Dicksdotter Hermansson kepada surat kabar.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa dana federasi telah digunakan secara terus-menerus selama bertahun-tahun untuk menambal lubang kerugian ajang reli tersebut. Kondisi ini dinilai tidak adil bagi cabang olahraga otomotif lainnya yang bernaung di bawah payung federasi yang sama. Penolakan terhadap praktik subsidi silang yang tidak sehat ini menjadi salah satu pemicu utama mundurnya para petinggi federasi demi menegakkan prinsip keadilan organisasi olahraga.
Baca Juga Sebastien Loeb Jajal Mobil Spesifikasi WRC 2027 Proyek Reli Satu“Federasi mewakili 16 disiplin olahraga otomotif. Ini adalah organisasi olahraga, dan satu disiplin tidak boleh diistimewakan dengan cara membuat disiplin lain menanggung biayanya. Batasannya harus ditarik di suatu tempat,” tambahnya menegaskan posisi kritisnya terhadap manajemen keuangan saat itu.
Krisis internal ini juga berdampak langsung pada stabilitas struktur kepemimpinan perusahaan penyelenggara yang kini nyaris lumpuh akibat gelombang pengunduran diri para petinggi. Kepala Eksekutif Anna Nordkvist kini dilaporkan menjadi satu-satunya anggota dewan yang tersisa untuk menghadapi badai krisis finansial yang mengancam eksistensi ajang yang telah diselenggarakan sejak tahun 1950 tersebut.
Di tengah tekanan finansial yang kian menghimpit, kalender Kejuaraan Reli Dunia atau WRC yang baru saja diumumkan tetap mencantumkan ajang tersebut dalam jadwal resmi musim mendatang. Penyelenggaraan tersebut dijadwalkan akan menempati posisi aslinya sebagai putaran kedua musim balap yang dihelat pada bulan Februari, meskipun bayang-bayang kebangkrutan masih menyelimuti persiapan teknis maupun administratif di balik layar.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!