Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem secara resmi mengonfirmasi bahwa ajang balap mobil bergengsi Formula 1 akan kembali menggunakan konfigurasi mesin V8 pada tahun 2030 mendatang. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan langsung oleh sang presiden dalam acara peluncuran Grand Prix Afrika, di mana ia menegaskan bahwa transisi besar tersebut akan segera terwujud lebih cepat dari jadwal perkiraan awal yang sebelumnya sempat dicanangkan pada tahun 2031.
Regulasi teknis dan unit daya baru yang dijadwalkan berlaku pada 2026 telah memicu berbagai kritik tajam dari berbagai pihak sejak pertama kali diperkenalkan ke publik. Baik para pembalap profesional maupun para penggemar setia telah melayangkan keluhan terbuka dengan menyatakan bahwa spesifikasi mobil masa depan tersebut tidak memadai untuk menghasilkan aksi balap yang kompetitif dan mendebarkan di atas lintasan.
Juara Dunia empat kali Max Verstappen bahkan tidak ragu melontarkan kritik pedas dengan menyebut regulasi baru tersebut sebagai 'Formula E dengan steroid', 'Mario Kart', hingga menganggapnya sebagai sebuah lelucon besar. Pasalnya, unit daya modern saat ini memiliki komposisi elektrik hingga 50 persen dan sangat bergantung pada manajemen baterai yang ketat oleh para pembalap selama perlombaan berlangsung.
Selain masalah performa dan taktik energi, penurunan tingkat kebisingan mesin juga menjadi sumber kekecewaan besar bagi para penikmat balap. Unit daya F1 era modern terdengar sangat jauh berbeda dibandingkan era-era sebelumnya yang menderu kencang, sehingga banyak pihak yang terus merindukan kembalinya raungan tenaga murni serta karakter suara mesin tradisional yang autentik.
Dalam keterangannya di Rwanda, Mohammed Ben Sulayem menyatakan antusiasmenya karena balapan perdana di benua Afrika tersebut akan langsung ditenagai oleh mesin V8 yang baru. Ia menjelaskan bahwa keindahan dari pencapaian tahun 2030 ini adalah hasil kerja sama kolektif untuk meluncurkan unit daya yang lebih ringan, di mana mobil balap nantinya akan mengalami reduksi berat sekitar 80 kilogram demi mendukung kelincahan di lintasan.
Baca Juga FIA Utamakan Keselamatan Terkait Balapan Timur TengahLebih lanjut, Presiden FIA tersebut memaparkan bahwa tujuan utama dari proyek mesin V8 ini adalah menjaga keberlanjutan bisnis industri otomotif balap dengan memangkas biaya penelitian dan pengembangan hingga sedikitnya 50 persen. Aspek ketiga yang tidak kalah penting adalah kepuasan para penggemar melalui kembalinya suara mesin yang sesungguhnya, bukan sekadar kebisingan tanpa karakter.
Dengan dukungan penuh yang telah dikantongi dari pihak FOM serta para pabrikan mesin global, Ben Sulayem merasa sangat optimis bahwa transisi regulasi ini akan berjalan mulus tanpa hambatan berarti. Kembalinya Formula 1 ke benua Afrika pada tahun 2030 dipastikan akan menjadi tonggak sejarah baru yang semakin semarak dengan kembalinya raungan mesin V8 yang telah lama dirindukan oleh komunitas motorsport dunia.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!