PANDEGLANG , Nusantara Media – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan, potret kemiskinan ekstrem masih terselip di sudut Kabupaten Pandeglang. Arman, seorang kepala keluarga di Kampung Baru Cilurah, Desa Sukanagara, Kecamatan Carita, harus menelan pil pahit kehidupan.

Bersama istri dan empat anaknya, ia terpaksa berteduh di sebuah gubuk reot berukuran hanya 5x2 meter.Gubuk yang menjadi tempat bernaung bagi enam jiwa tersebut jauh dari kata layak. Dindingnya hanya disusun dari bambu yang mulai lapuk, sementara atapnya hanya berupa terpal seadanya.

Kondisi ini membuat keluarga kecil tersebut selalu dihantui rasa cemas. Saat hujan mengguyur, atap terpal itu tak mampu membendung air, membiarkan dinginnya malam menusuk tulang keluarga tersebut.

- Advertisement -

Keterbatasan ekonomi memaksa Arman banting tulang sebagai pekerja serabutan. Penghasilan yang jauh dari kata cukup seringkali hanya habis untuk menyambung hidup sehari-hari.

Demi menghidupi istri dan empat buah hatinya, Arman tak memilih pekerjaan; mulai dari menjadi pemulung hingga mencari rumput laut di pesisir ia lakoni."Penghasilan saya tidak menentu karena hanya bekerja serabutan.

Untuk makan sehari-hari saja seringkali kurang, apalagi untuk memperbaiki rumah," ungkap Arman dengan nada lirih.

Nestapa keluarga Arman semakin lengkap karena mereka tidak memiliki hunian di atas tanah sendiri. Gubuk yang mereka huni saat ini berdiri di atas tanah milik orang lain, sebuah fakta yang membuat masa depan tempat tinggal mereka sangat tidak menentu.

Meski hidup dalam keterbatasan yang ekstrem, pria tegar ini tetap berusaha menunjukkan ketabahan. Baginya, bersyukur menjadi satu-satunya cara untuk tetap bertahan meski kondisi fisiknya sudah sangat letih."Tapi untuk sementara, saya ikhlaskan dan mensyukuri apa yang ada," pungkasnya dengan getir.

Kisah Arman menjadi cerminan nyata masih adanya keluarga yang membutuhkan uluran tangan pemerintah maupun para dermawan agar dapat hidup lebih layak di masa depan.