Lampung Selatan, Nusantara Media – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, kembali mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan adanya kemunculan sinar api dari puncak kawah serta ratusan aktivitas kegempaan yang terekam hanya dalam kurun waktu enam jam.
Berdasarkan laporan resmi pengamatan yang disusun oleh petugas Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman, peningkatan aktivitas ini tercatat pada periode pengamatan hari Senin, 31 Agustus 2026, mulai pukul 18.00 hingga 24.00 WIB.
Secara visual, gunung dengan ketinggian 157 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini terlihat jelas meskipun sesekali tertutup kabut dengan tingkat 0 hingga III. Asap kawah utama terpantau berwarna putih dengan intensitas tipis, mengembang setinggi 20 hingga 50 meter dari puncak.
Namun, temuan yang paling menonjol pada malam itu adalah teramatinya pantulan sinar api dari kawah gunung. Kemunculan sinar api pada malam hari ini mengindikasikan adanya material magma yang sudah berada sangat dekat dengan permukaan kawah atau aktivitas efusif yang sedang berlangsung di perut gunung.
Kondisi cuaca di sekitar gunung sendiri dilaporkan berawan hingga mendung, dengan angin yang bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut. Suhu udara berkisar antara 27 hingga 29,3 derajat Celcius dengan tingkat kelembaban mencapai 72 hingga 82 persen.
Data instrumental dari Badan Geologi Kementerian ESDM menunjukkan angka kegempaan yang sangat intens. Dalam rentang waktu enam jam pengamatan tersebut, seismograf mencatat rentetan gempa yang mengindikasikan adanya pergerakan fluida dan magma ke permukaan.
Tercatat ada 85 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak dengan amplitudo 7-29 mm dan durasi 7-24 detik. Selain itu, terekam pula 68 kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 6-32 mm berdurasi 7-22 detik, serta 21 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 8-25 mm dan durasi 20-49 detik.
Baca Juga Tragedi di Depan Masjid Al-Mutaqin Demak: Satu Korban Tewas Terekam CCTVLebih lanjut, alat pemantau juga merekam adanya Tremor Menerus (Microtremor) dengan amplitudo 1-10 mm, di mana amplitudo dominan berada pada angka 1 mm. Tingginya frekuensi gempa hybrid dan low frequency, ditambah dengan tremor menerus, menjadi sinyal kuat bahwa aktivitas magmatik di dalam kantong magma Gunung Anak Krakatau sedang bergejolak.
Menyikapi data visual dan kegempaan tersebut, PVMBG dengan tegas menyatakan bahwa tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih bertahan pada Level III atau Siaga.
Sebagai langkah mitigasi dan pencegahan jatuhnya korban jiwa, PVMBG mengeluarkan rekomendasi tegas kepada publik. Masyarakat umum, pengunjung, wisatawan, pendaki, maupun nelayan dilarang keras untuk mendekati Gunung Anak Krakatau.
"Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif," tegas laporan dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau tersebut. Area dalam radius 3 km ini merupakan zona merah yang sangat rawan terdampak material lontaran batu pijar, hujan abu lebat, maupun gas beracun jika sewaktu-waktu terjadi erupsi eksplosif.
Masyarakat pesisir di sekitar Banten dan Lampung juga diimbau untuk tidak mudah terpancing oleh informasi hoaks terkait ancaman tsunami dan selalu merujuk pada informasi resmi yang dirilis oleh Badan Geologi, PVMBG, atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!