Kepala Tim Mercedes Formula 1, Toto Wolff, secara terbuka mengungkapkan salah satu pelajaran terbesar yang ia petik dari masa-masa sulit penurunan performa tim setelah era kejayaan mereka yang mendominasi ajang balap jet darat. Mercedes sempat mencatatkan rekor luar biasa dengan merajai kejuaraan konstruktor selama delapan tahun berturut-turut dari musim 2014 hingga 2021, serta mengamankan tujuh gelar juara dunia pembalap dalam periode dominasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern Formula 1.
Namun, transisi regulasi ground effect pada rentang tahun 2022 hingga 2025 menghadirkan tantangan berat bagi skuad asal Brackley tersebut, di mana mereka kesulitan untuk bersaing secara konsisten di barisan terdepan. Wolff mengakui bahwa beradaptasi dengan situasi di mana Mercedes tidak lagi kompetitif memberikan banyak pelajaran manajerial yang sangat berharga, terutama ketika menghadapi insiden krusial di pengujung musim 2023 ketika salah satu pilar penting tim nyaris mengajukan pengunduran diri akibat tekanan internal yang terakumulasi.
Berbicara dalam sesi panel di Milken Institute Asia Summit 2026 di Singapura menjelang akhir pekan balapan Grand Prix Singapura, Wolff menceritakan kembali peristiwa tersebut secara mendalam kepada moderator Ray Dalio di atas panggung. Ia menjelaskan bagaimana komentar publiknya di hadapan awak media sempat memicu kemarahan dan kekecewaan mendalam pada direktur teknis James Allison, hingga mendorong sang insinyur jenius tersebut berniat meninggalkan tim.
"Beberapa tahun lalu kami memenangkan delapan kejuaraan konstruktor berturut-turut dan tiba-tiba regulasi berubah dan performa kami benar-benar merosot," ujar Wolff di hadapan para audiens. Ia menambahkan bahwa dalam kurun waktu dua puluh tahun ke depan, catatan statistik tersebut mungkin akan terlihat tidak terlalu buruk bagi sejarah, namun pada saat, kenyataan pahit tersebut dirasakan sebagai sebuah kegagalan besar oleh seluruh anggota skuad yang terbiasa mendominasi podium tertinggi setiap akhir pekan.
Wolff kemudian menceritakan titik balik krisis tersebut yang bermula dari kekecewaan mendalam pada Grand Prix Brasil 2023. Setelah sempat meraih kemenangan di Brasil pada musim sebelumnya yang juga berjalan sulit, Mercedes memasang ekspektasi tinggi pada balapan tersebut karena karakteristik lintasan dianggap sesuai dengan potensi mobil mereka dan kemampuan para pembalap. Namun, hasil di lintasan jauh dari harapan dan memicu frustrasi massal di dalam garasi tim.
Baca Juga George Russell dan Tekanan Antonelli di Monza: Mimpi Buruk?"Dan itu adalah kekecewaan yang masif. Kami sama sekali tidak kompetitif. Dan menjelang akhir balapan saya terjebak oleh pertanyaan seorang jurnalis yang bertanya kepada saya, 'Apakah mobil itu layak untuk menang?', dan saya menjawab 'Tidak, mobil itu tidak layak untuk menang'. Direktur teknis dan kepala perancang saya mengatakan mereka menyaksikannya di televisi dan mengira saya berbicara langsung kepada mereka, yang dalam artian tertentu memang benar adanya," kenang Wolff.
Pernyataan tersebut terbukti menjadi pemicu utama keputusan Allison untuk mengundurkan diri. Wolff mengungkapkan bahwa Allison langsung mendatangi dan menyatakan niatnya untuk pergi karena sudah tidak sanggup lagi menahan tekanan psikologis yang diberikan oleh sang prinsipal tim di tengah situasi yang sudah sangat menekan secara emosional bagi para pengembang teknis di pabrik.
Berkat pendekatan persuasif dan komunikasi intensif yang dilakukan oleh Wolff dalam beberapa pekan berikutnya, situasi berhasil diredam dan Allison akhirnya bersedia menandatangani kontrak jangka panjang baru pada musim dingin 2023-2024 untuk tetap memimpin departemen teknis panah perak.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!