Akhir pekan balap MotoGP di Sirkuit Sepang, Malaysia, yang seharusnya menjadi lumbung poin dan arena menyenangkan bagi Francesco Bagnaia, justru berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Pembalap pabrikan asal Italia itu hanya mampu mengamankan posisi keenam pada sesi sprint hari Sabtu setelah memulai lomba dari posisi kesepuluh. Namun, bencana yang sebenarnya terjadi pada balapan utama hari Minggu ketika ia harus puas terlempar jauh di posisi ke-13, sementara sang rekan setim melaju kencang demi mengamankan ambisi besar dalam perebutan gelar juara dunia musim ini.

Hasil minor tersebut sama sekali tidak mengejutkan bagi sang juara dunia dua kali. Selepas balapan utama yang melelahkan, ia secara terbuka mengakui bahwa jalannya lomba benar-benar sesuai dengan prediksi suram yang telah ia bayangkan sejak awal. Kondisi lintasan yang sepenuhnya kering pada hari Minggu membuat segala kelemahan teknis motornya tersaji tanpa bisa ditutupi. Pada hari sebelumnya, ia merasa tertolong oleh cuaca hujan di paruh balapan sprint. Ketika kondisi trek dapat diprediksi oleh semua kontestan, masalah klasik terkait degradasi ban belakang langsung menghantam performanya tanpa ampun.

Dalam analisis teknis yang diungkapkan oleh petinggi tim asal Borgo Panigale, menjaga keawetan kompon ban belakang dari aus berlebih adalah kunci utama untuk bertahan di Sepang. Akan tetapi, kenyataan di atas lintasan berkata lain bagi pemegang nomor start 63 tersebut. Upayanya untuk menghemat kompon karet sejak lampu start padam berbuah nihil. Baru berjalan lima putaran saja, cengkeraman roda belakangnya sudah habis total. Sisa balapan ia lalui bukan untuk bertarung, melainkan sekadar bertahan hidup agar bisa menyentuh garis finis tanpa mengalami kecelakaan fatal.

- Advertisement -
Advertisement

Kondisi ini membuatnya merasa sangat terpukul dan frustrasi mendalam sebagai seorang atlet profesional. Masalah utama yang dirasakannya adalah ketidakmampuan total untuk memacu motor secara maksimal di sepanjang akhir pekan. Catatan waktu putaran terakhirnya yang melorot hingga angka 2 menit 05,1 detik menjadi bukti sahih betapa buruknya situasi yang ia hadapi. Mengingat rekam jejak manisnya di Sepang pada musim-musim sebelumnya, penurunan performa drastis ini terasa sangat sulit diterima oleh akal sehatnya. Ia secara blak-blakan menyebut karakteristik motor tahun ini jauh tertinggal dibandingkan spesifikasi musim lalu.

Baca Juga Bezzecchi Pimpin Practice MotoGP San Marino, Bagnaia Terpuruk

Menghadapi sisa seri balapan yang semakin menipis jelang akhir musim, target yang dipasang oleh sang pembalap kini berada di titik nadir paling realistis. Tidak ada lagi ambisi muluk untuk mendominasi podium tertinggi, melainkan sekadar bertahan hingga kompetisi benar-benar usai. Tantangan berikutnya akan langsung menyambut di Sirkuit Internasional Lusail dalam rangkaian Grand Prix Qatar. Di tengah bayang-bayang ketidakpastian keamanan regional Timur Tengah yang membuat beberapa pihak memilih absen, ia dan para rival lainnya tetap harus bersiap turun ke lintasan dengan jaminan keamanan tambahan dari pihak penyelenggara.