Carmelo Ezpeleta menegaskan MotoGP masih berkeinginan kuat menggelar seri Qatar pada November mendatang. Pernyataan ini disampaikan di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang kembali memanas, membuat masa depan balapan di Sirkuit Losail semakin tidak pasti.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali berkobar sejak Februari lalu telah menyebabkan kekacauan besar pada kalender motorsport dunia. MotoGP awalnya dijadwalkan menggelar Grand Prix Qatar pada April, namun terpaksa ditunda ke akhir pekan 6-8 November. Dua seri terakhir pun harus dimundurkan untuk mengakomodasi perubahan ini. Namun, bayang-bayang ketidakpastian terus menghantui. Beberapa minggu terakhir, eskalasi konflik di kawasan membuat peluang Qatar tetap di gelaran semakin tipis.

Dampak dari ketidakstabilan ini tidak hanya dirasakan MotoGP. FIA World Endurance Championship (WEC) yang seharusnya menggelar final musim di Bahrain pada akhir pekan yang sama dengan MotoGP Qatar, terpaksa memindahkan dua putaran terakhirnya ke Eropa. Sementara itu, Formula 1 harus menggelar ulang Grand Prix Bahrain di Malaysia pada 2-4 Oktober. Kejuaraan Dunia Rally (WRC) juga membatalkan finalnya di Arab Saudi yang seharusnya berlangsung sepekan setelah MotoGP Qatar. Semua mata kini tertuju pada keputusan MotoGP.

- Advertisement -
Advertisement

Berbicara kepada DAZN di Grand Prix Austria pada Sabtu, Ezpeleta tetap optimistis. "Saya pikir begitu, saat ini idenya adalah pergi," ujarnya ketika ditanya apakah MotoGP akan tetap ke Qatar. "Kami terus berkomunikasi dengan Qatar; pihak berwenang mengatakan mereka bersedia menyelenggarakannya. Dan jika tidak ada perubahan radikal, rencananya kami akan pergi."

Menariknya, Grand Prix Austria akhir pekan ini disponsori oleh Qatar Airways. Hal ini mungkin turut memperlambat pengambilan keputusan terkait balapan di Qatar. Namun, dengan delapan seri tersisa dan Jorge Martin hanya memimpin klasemen dengan selisih tiga poin, tim-tim membutuhkan kejelasan secepatnya. Mereka perlu tahu berapa banyak balapan yang benar-benar akan digelar.

Baca Juga Honda dan Quartararo Punya Satu Target Jelas di MotoGP

Beberapa minggu lalu, muncul laporan bahwa Qatar tidak akan digantikan jika dibatalkan. Artinya, 37 poin bisa hilang dari perebutan gelar. Dampaknya pun bisa merembet ke kelas lain. Pemimpin klasemen Moto3 yang dominan, Max Quilles, berpotensi meraih gelar dunianya hanya melalui siaran pers jika balapan di Qatar batal.

Situasi yang tidak menentu di Timur Tengah juga telah menunda rilis kalender MotoGP 2027. Meski begitu, kalender F1 untuk tahun depan tetap menampilkan Bahrain dan Arab Saudi sebagai putaran pembuka. "Ya, saya benar-benar berpikir kami akan menerbitkan jadwal 2027 segera, mungkin minggu depan atau setelahnya," tambah Ezpeleta.

Keputusan akhir mengenai Qatar akan segera diambil. Jika balapan ini tetap digelar, maka MotoGP akan menghadapi tantangan logistik dan keamanan yang tidak kecil. Namun, semangat untuk tetap balapan di tengah badai geopolitik menunjukkan betapa kuatnya komitmen MotoGP terhadap para penggemar dan tim.