Red Bull Ford menjadi satu-satunya pabrikan Formula 1 yang tidak menerima kesempatan pengembangan berdasarkan dua periode penilaian awal sistem ADUO. Temuan ini mengejutkan banyak pihak, terutama mengingat Red Bull kerap mengeluhkan defisit tenaga di sirkuit yang sensitif terhadap performa mesin.

Pengumuman ADUO (Additional Development and Upgrade Opportunities) oleh FIA memang sudah lama dinantikan. Hasil periode pertama telah dibagikan kepada semua tim dan pabrikan di Grand Prix Monako, namun rilis resmi baru diterbitkan setelah hasil periode kedua lengkap. Keterlambatan ini dipicu oleh ketidakpuasan signifikan dari Red Bull, yang bahkan melibatkan Oliver Mintzlaff, eksekutif senior perusahaan.

Namun, Red Bull memiliki sedikit ruang untuk menggugat hasil tersebut. Sistem ini memang memiliki kelemahan, tetapi para tim dan pabrikan sendiri yang menyetujuinya tahun lalu. Red Bull Ford Powertrains hanya bisa meminta tinjauan faktual, dan hasilnya tetap sama. Direktur mobil kursi tunggal FIA, Nikolas Tombazis, menegaskan bahwa pengukuran mereka akurat, meskipun prinsipal Red Bull, Laurent Mekies, berargumen bahwa tidak ada satu pun data yang menunjukkan mesin Red Bull terbaik.

- Advertisement -
Advertisement

Red Bull menyoroti defisit di sirkuit yang sangat bergantung pada tenaga, seperti yang diungkapkan Mekies. Namun, gambaran tersebut juga terkait dengan manajemen energi di trek yang minim energi, yang tidak diukur oleh FIA. Sistem ADUO hanya mengukur output tenaga dari mesin pembakaran internal, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor seperti manajemen energi. FIA tidak dapat mengungkapkan detail metode pengukuran karena menyangkut kekayaan intelektual dan informasi rahasia.

Akibatnya, pernyataan resmi hanya menyebutkan bahwa Mercedes masuk dalam kategori defisit 2-4%, yang memberinya satu kesempatan upgrade pada 2026 dan satu lagi pada 2027. Ferrari, Audi, dan Honda masuk kategori defisit lebih dari 4%, sehingga mereka mendapat dua homologasi baru di musim ini dan dua lagi tahun depan. Selain itu, semua pabrikan ini menerima kelonggaran finansial tambahan di bawah batas biaya untuk pabrikan mesin.

Baca Juga Max Verstappen Tanggapi Maaf Antonelli, Norris Pilih Nomor 1 2026: Dampak Besar?

Sistem ADUO awalnya dirancang untuk membantu pabrikan yang tertinggal jauh, seperti Honda, tetapi kini menjadi medan pertarungan politik di F1. Kritik muncul karena sistem ini dianggap tidak adil bagi pabrikan yang sudah unggul, seperti Red Bull, yang justru tidak mendapat kesempatan pengembangan. Sementara itu, Ferrari dan Mercedes diuntungkan dengan tambahan upgrade, yang berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di musim-musim mendatang.

Pertanyaan besarnya adalah apakah sistem ini perlu dirombak untuk masa depan. Dengan hanya mengukur tenaga murni, ADUO mengabaikan aspek manajemen energi yang krusial di era mesin hybrid. Para pabrikan mungkin perlu meninjau ulang kriteria penilaian agar lebih komprehensif dan mencerminkan performa sebenarnya di lintasan.