LAMPUNG NUSANTARA MEDIA  – Situasi di perairan Selat Sunda kembali berdebar. Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (157 mdpl) yang berlokasi di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, menunjukkan eskalasi yang cukup ekstrem dan mencekam. Pada pengamatan malam hari, gunung berapi yang melegenda ini kembali memperlihatkan "taringnya" dengan memancarkan sinar api yang terlihat jelas dari pos pengamatan.

Berdasarkan laporan resmi dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau yang disusun oleh petugas Muhammad Dika Nurzaman, untuk periode pengamatan Sabtu, 18 Juli 2026, pukul 18:00 hingga 24:00 WIB, aktivitas magma di dalam perut bumi terekam mengalami fluktuasi yang sangat intens. Fenomena kemunculan sinar api di malam hari ini menjadi indikator visual yang sangat kuat bahwa suhu dan material pijar di sekitar kawah sedang mengalami peningkatan.

Secara visual, kondisi cuaca di sekitar gunung dilaporkan berawan dengan angin yang bertiup lemah ke arah barat laut. Suhu udara berada di kisaran 27-28 °C dengan tingkat kelembaban 78-86 %. Meski gunung terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III dan tidak ada asap kawah yang teramati, pantulan sinar api di kegelapan malam menjadi tanda bahaya yang tidak bisa diabaikan oleh masyarakat maupun pelayaran.

- Advertisement -

Lebih lanjut, data instrumental atau kegempaan (seismik) mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di bawah permukaan. Dalam periode enam jam pengamatan tersebut, alat pencatat gempa (seismograf) merekam terjadinya Tremor Harmonik sebanyak 10 kali. Tremor ini memiliki amplitudo yang cukup besar, yakni antara 7.6 hingga 13.1 mm, dengan durasi yang sangat panjang berkisar antara 33 hingga 251 detik.

Tidak hanya itu, gunung ini juga mengalami Tremor Menerus (Microtremor) yang terekam tanpa henti dengan amplitudo 1-10 mm, di mana getaran dominan berada di angka 5 mm. Munculnya tremor harmonik dan microtremor ini adalah sinyal nyata adanya suplai fluida atau pergerakan magma dari kedalaman menuju permukaan kawah yang terjadi secara terus-menerus. Kegempaan yang fluktuatif ini membuktikan bahwa energi di dalam perut Anak Krakatau sedang tidak stabil.

Di tengah kondisi vulkanik yang ekstrem ini, kondisi ombak laut di sekitar kepulauan Krakatau justru dilaporkan tenang. Namun, masyarakat diminta untuk tidak terkecoh dengan ketenangan laut tersebut.

Merespons kondisi yang terus memanas ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), melalui Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), menegaskan bahwa tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini kokoh berada di Level III atau Siaga.

Sebagai langkah mitigasi mutlak, PVMBG mengeluarkan rekomendasi dan larangan keras bagi seluruh lapisan masyarakat. Siapa pun, baik itu warga lokal, pengunjung, wisatawan, nelayan, maupun pendaki, DIHARAMKAN untuk mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas apa pun di dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Bahaya lontaran material pijar, awan panas, hingga gas beracun dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa peringatan lebih lanjut.

Kondisi Anak Krakatau akan terus dipantau secara ketat selama 24 jam penuh. Masyarakat di pesisir Banten dan Lampung diimbau untuk tetap waspada, tidak panik, dan hanya mempercayai informasi resmi dari instansi pemerintah terkait, bukan dari rumor atau hoaks yang beredar di media sosial.