Akhir pekan Grand Prix Singapura Formula 1 menyimpan kekecewaan mendalam bagi Pierre Gasly, yang harus pulang tanpa perolehan poin meskipun sempat menunjukkan performa menjanjikan pada sesi kualifikasi. Pembalap asal Prancis tersebut secara terbuka membedah berbagai masalah perilaku mobil tim Alpine yang membuatnya kesulitan sepanjang balapan di Sirkuit Marina Bay. Padahal, persiapan awal akhir pekan tersebut sempat memberikan secercah harapan bagi garasi tim asal Enstone ini setelah sang pembalap berhasil mengamankan posisi start ketujuh di grid.

Keberhasilan menembus posisi sepuluh besar di grid sebenarnya tidak diraih dengan mudah, melainkan terbantu oleh kendala teknis yang dialami oleh Isack Hadjar serta penalti posisi start yang dijatuhkan kepada George Russell. Meskipun sempat mencatatkan waktu yang terpaut cukup jauh dari pembalap Racing Bulls, Liam Lawson, pada fase Q1 dan Q2, Gasly mampu bangkit di detik-detik krusial untuk mengungguli para rival lap time-nya di sesi Q3. Namun, momentum positif tersebut seketika menguap begitu lampu start padam dan mobil meluncur meninggalkan garis start balapan utama.

Masalah langsung mendera Alpine sejak detik pertama ketika balapan dimulai, di mana Gasly harus rela kehilangan dua posisi penting dari Liam Lawson dan Nico Hulkenberg. “Kami tidak memiliki tenaga saat keluar garis start,” ujar Gasly memberikan komentar terkait buruknya traksi awal mobilnya. “Kami harus meninjau ulang masalah ini, karena tahun ini kami biasanya memiliki catatan start yang sangat baik dan konsisten di berbagai seri sebelumnya.”

- Advertisement -
Advertisement

Situasi balapan semakin memburuk seiring dengan berjalannya lap demi lap di sirkuit jalan raya Singapura yang menuntut tingkat keausan ban yang tinggi. Menjelang lap ke-55 dari total 62 putaran, pembalap bernomor mobil sepuluh itu masih berjuang keras mempertahankan posisi kesepuluh dengan selisih waktu sekitar delapan detik di belakang Liam Lawson. Akan tetapi, degradasi ban yang terjadi secara drastis membuat laju mobilnya melambat secara signifikan, hingga akhirnya ia kehilangan banyak waktu dan posisinya direbut begitu saja menjelang akhir lomba.

Degradasi ekstrem tersebut ternyata berakar langsung dari karakteristik buruk pada penanganan sasis dan manajemen ban mobil balap mereka di tikungan lambat. “Di trek dengan banyak tikungan lambat dan membutuhkan traksi tinggi, ban kami habis total setelah tiga lap saja,” keluh Gasly dengan nada kecewa. “Saat kualifikasi, ban masih dingin dan tidak punya cukup waktu untuk mengalami overheat parah. Namun saat balapan, ban langsung ambruk setelah dua atau tiga lap, membuat kami sama sekali kehilangan traksi.”

Baca Juga Bos NFL Woody Johnson Resmi Jadi Pemegang Saham Aston Martin F1

Ketika disinggung mengenai peluangnya menahan gempuran mobil di belakangnya, sang pembalap menegaskan bahwa masalah utamanya terletak pada ketidakmampuan mobil untuk keluar tikungan dengan kecepatan optimal. “Masalah utama kami adalah saya tidak bisa keluar dari tikungan mana pun. Menjadi lambat adalah satu hal, tetapi jika Anda bisa keluar tikungan dengan kecepatan yang wajar, Anda bisa bertahan. Masalahnya saya selalu melintir setiap kali menginjak pedal gas,” tegasnya.

Kondisi ini tentu menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat bagi teknisi tim dalam menghadapi sisa kalender balap musim ini, terutama setelah posisi mereka di klasemen konstruktor turut mendapat tekanan. Tantangan pengembangan aerodinamika dan pemilihan komponen pelek kini menjadi fokus utama yang harus segera diselesaikan agar insiden serupa tidak terulang di seri-seri berikutnya.