Grand Prix Madrid 2026 langsung menyita perhatian, bukan hanya karena debutnya sebagai sirkuit baru, tetapi juga karena tingginya tingkat cengkeraman yang mengejutkan dan degradasi ban yang ekstrem. Toto Wolff, bos Mercedes, bahkan mengungkapkan bahwa setelah sesi latihan bebas pertama (FP1), direktur strateginya sempat berkelakar tentang strategi enam kali pit stop karena degradasi mencapai delapan persepuluh detik per lap. Namun, ia yakin balapan akhirnya akan menjadi one-stop.
Sirkuit Madrid, yang dijuluki Madring, memang memberikan sensasi berbeda. Aspal baru dengan tingkat cengkeraman tinggi membuat para pembalap awalnya terkejut, tetapi justru memicu masalah degradasi ban yang di luar perkiraan. Pemasok ban Pirelli pun mengakui bahwa situasi ini tidak biasa. "Kami terkejut dengan nilai degradasi yang terjadi. Ini di luar rentang ekspektasi kami," ujar Simone Berra, chief engineer Pirelli, kepada Motorsport.com.
Menurut Pirelli, ada dua penyebab utama degradasi tinggi di Madrid: graining dan penurunan termal pada ban belakang. Graining terjadi karena permukaan aspal yang halus dan tingkat cengkeraman yang tinggi, menyebabkan ban terkoyak dan kehilangan performa. "Kami mencapai puncak stres, lalu ban mulai robek dan menyebarkan graining," jelas Berra. "Ini adalah salah satu efek yang dialami pembalap selama long run di hari Jumat, di mana graining pada ban depan kiri menjadi batasan dan menyebabkan understeer di tengah tikungan."
Selain graining, degradasi termal pada ban belakang juga menjadi faktor signifikan. Kombinasi keduanya menciptakan degradasi yang jauh lebih tinggi dari biasanya. Pirelli mencatat bahwa pada hari Jumat, pembalap kehilangan dua hingga tiga persepuluh detik per lap hanya karena degradasi ban. Angka ini memang tidak seekstrem yang disebut Wolff, tetapi tetap mencolok untuk standar Formula 1. Biasanya, degradasi setinggi ini hanya terjadi di sirkuit seperti Qatar, di mana panas tinggi dan tikungan cepat beruntun menjadi penyebabnya.
Baca Juga Aprilia Pamer Livery Vespa Putih di MotoGP Misano, Terinspirasi Gilles VilleneuveMasalah lain yang mencuat adalah pitlane yang sangat panjang, mencapai enam kilometer. Panjangnya pitlane ini menuai kritik karena berpotensi menghambat strategi dan memakan waktu lebih banyak saat pit stop. Meskipun demikian, karakteristik sirkuit yang mendukung strategi one-stop justru membuat pitlane panjang menjadi kurang relevan. "Saya pikir pada akhirnya akan menjadi one-stop," tegas Wolff, menunjukkan bahwa meskipun degradasi tinggi, tim-tim mungkin akan memilih strategi konservatif untuk menghindari kehilangan waktu di pitlane.
Dengan kombinasi grip tinggi, degradasi ekstrem, dan pitlane yang tidak biasa, Grand Prix Madrid menjadi ujian strategi dan manajemen ban yang menarik. Tim-tim harus cermat dalam memilih kompon ban dan menentukan waktu pit stop yang tepat. Sementara para pembalap dituntut untuk mengelola ban dengan baik, terutama dalam menghadapi graining dan penurunan performa di akhir stint. Balapan di Madrid diprediksi akan menjadi pertarungan sengit yang tidak hanya mengandalkan kecepatan, tetapi juga kecerdasan strategi.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!