Perseteruan internal di dalam garasi tim Red Bull kembali mencuat ke permukaan setelah Helmut Marko melancarkan kritik tajam terhadap mantan prinsipal tim, Christian Horner. Ketegangan yang telah lama membara ini semakin tersulut menyusul diterbitkannya buku memoar terbaru karya Horner yang berjudul 'Drive'. Buku yang resmi dirilis pada 22 Oktober tersebut memuat berbagai klaim mengejutkan serta sejumlah tudingan pedas yang dialamatkan langsung kepada rekan lamanya di Red Bull, menciptakan babak baru dalam drama politik Formula 1 yang melibatkan dua figur paling berpengaruh di balik kesuksesan skuad asal Milton Keynes tersebut.

Hubungan antara kedua tokoh penting ini memang telah memburuk secara drastis menyusul kepergian masing-masing dari struktur kepemimpinan Red Bull. Sejak saat itu, keduanya kerap melontarkan komentar-komentar tajam di ruang publik. Dalam memoarnya, Horner, yang harus meninggalkan posisinya setelah memimpin tim selama dua dekade penuh pada Juli 2025, menuding Marko sebagai dalang di balik berbagai kegagalan program pembalap muda Red Bull. Tidak hanya itu, Horner juga mengklaim bahwa penasihat asal Austria tersebut secara aktif mendorong pemecatannya serta membocorkan berbagai data internal serta operasional tim kepada awak media selama masa-masa penuh gejolak di dalam tubuh tim juara dunia tersebut.

Lebih lanjut dalam buku tersebut, Horner juga melontarkan tuduhan personal yang menyatakan bahwa Marko sama sekali tidak pernah menyampaikan ucapan duka cita ketika Beverley Allen, yang merupakan ibu dari putrinya, meninggal dunia akibat penyakit kanker mata pada tahun lalu. Berbagai tuduhan berlapis ini tentu saja memicu reaksi keras dari pihak Marko, yang tidak tinggal diam dan segera memberikan bantahan tegas melalui sebuah wawancara eksklusif dengan surat kabar terkemuka asal Austria, Kronen Zeitung, untuk meluruskan berbagai narasi yang dianggapnya menyudutkan dan tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.

- Advertisement -
Advertisement

Menanggapi rentetan klaim yang dilontarkan oleh mantan anak buahnya itu, Marko dengan tegas menepis seluruh isi buku tersebut dengan sebutan yang sangat keras. Dilansir dari Crash.net, Marko secara terbuka menyatakan bahwa klaim-klaim yang ditulis dalam memoar tersebut sama sekali tidak berdasar. "Itu adalah kumpulan ketidakbenaran dengan kualitas sangat rendah sehingga saya bahkan tidak ingin membahasnya," ujar Marko dalam wawancara tersebut, menegaskan keengganannya untuk meladeni seluruh tuduhan secara satu per satu demi menjaga martabatnya di dunia balap jet darat.

Meskipun demikian, terdapat satu hal spesifik yang sangat ingin diluruskan oleh pria berusia 83 tahun tersebut, terutama yang berkaitan dengan tuduhan bahwa dirinya mengabaikan duka cita atas kepergian mantan pasangan Horner. "Saya hanya ingin mengoreksi satu klaim: bahwa saya memang benar menyampaikan ucapan belasungkawa setelah kematian mantan pasangan beliau, Beverly," lanjut Marko, bahkan dilaporkan memperlihatkan bukti pesan digital tersebut langsung kepada jurnalis yang mewawancarainya melalui layar ponsel pribadinya sebagai bukti otentik.

Baca Juga Rosberg Peringatkan Antonelli: Ancaman Terbesar Bukan Russell

Selain mempermasalahkan isi klaim di dalam buku, Marko juga mengecam keras pemilihan waktu peluncuran memoar tersebut. Ia menilai keputusan untuk merilis buku kontroversial itu bertepatan dengan peringatan tahun keempat kematian salah satu tokoh paling penting dalam sejarah dunia balap modern sekaligus pendiri perusahaan minuman berenergi Red Bull, Dietrich Mateschitz, merupakan sebuah tindakan yang sangat tidak peka terhadap situasi emosional yang menyelimuti keluarga besar tim dan para penggemar setia di seluruh dunia.

Bagi Marko, momentum penerbitan buku yang bersamaan dengan hari wafatnya Mateschitz adalah sebuah bentuk ketidakhormatan yang nyata terhadap warisan sang pendiri. "Fakta bahwa buku tersebut diterbitkan tepat pada hari Dietrich Mateschitz meninggal dunia adalah sebuah hal yang memalukan," pungkasnya dengan nada geram, menutup perdebatan panjang yang sekali lagi membongkar sisi gelap di balik tirai kejayaan pabrikan minuman energi tersebut di ajang balap mobil paling bergengsi di muka bumi.