Pembalap bintang Max Verstappen kembali menyuarakan kritik tajam terhadap arah perkembangan teknis di ajang Formula 1. Sang juara dunia menilai bahwa aspek manajemen energi yang semakin rumit telah merusak esensi murni dari balapan, menjauhkannya dari pertarungan kecepatan murni di atas lintasan aspal.
Perubahan regulasi yang akan datang pada tahun 2026 mendatang memang dirancang untuk menghapus komponen MGU-H serta menggenjot daya keluaran MGU-K hingga mencapai 350 kW. Hal ini akan menciptakan pembagian tenaga nyaris seimbang 50/50 antara mesin pembakaran internal dan tenaga elektrik. Kendati demikian, kebijakan tersebut memaksa para pembalap untuk terus-menerus mengatur energi secara ketat dalam satu putaran penuh, sebuah kondisi yang dikritik keras mirip dengan kejuaraan Formula E.
Salah satu keluhan utama dari Red Bull Racing dan para pembalap lainnya adalah bagaimana regulasi modern ini lebih menguntungkan individu yang mahir dalam pengaturan baterai ketimbang kemampuan murni mengemudi. Verstappen menjelaskan kepada media bahwa bahkan prosedur awal balapan kini telah menjadi jauh lebih rumit dibandingkan masa lalu yang lebih sederhana.
Prosedur menyalakan mesin kini dapat memakan waktu hingga empat atau lima detik sebelum pembalap benar-benar bisa meluncur pergi. Masalah utamanya terletak pada kompleksitas perangkat lunak di latar belakang yang bisa saja memicu gangguan teknis dan menghalangi mobil untuk bergerak secara normal, bahkan saat melaju dalam putaran lambat sekalipun.
Menurut pandangan pembalap asal Belanda tersebut, idealnya ketika seseorang melintasi garis finis, mereka seharusnya bisa langsung melepas gas tanpa harus pusing memikirkan pengisian daya baterai atau memastikan posisi optimal di dalam rombongan. Kerumitan serupa juga terjadi saat hendak melakukan manuver menyalip di mana pembalap harus memastikan posisi baterai berada di tempat yang tepat.
Seharusnya para pengemudi tidak perlu direpotkan dengan pemikiran di titik mana mereka harus mengangkat kaki dari pedal gas atau menurunkan gigi semata-mata untuk memastikan penyaluran tenaga baterai bekerja secara maksimal. Verstappen selalu konsisten memperjuangkan gaya balap yang lebih murni, di mana ia dikenal luas lewat kemampuannya melakukan pengereman terlambat yang kini menjadi kurang efektif di era modern.
Baca Juga Lima Cara F1 Perbaiki Sirkuit Madring untuk MotoGP Spanyol 2027"Semua hal semacam ini bukanlah esensi dari balapan yang sebenarnya," ujar Verstappen menegaskan pandangannya terkait kompleksitas teknologi hibrida saat ini.
"Anda seharusnya bisa turun ke lintasan, hanya mengandalkan pedal rem dan pedal gas, dan itulah satu-satunya penentu catatan waktu satu putaran," imbuhnya.
Menanggapi berbagai keluhan dari sejumlah pembalap termasuk FIA, badan pengatur tertinggi otomotif dunia tersebut mulai mengambil langkah penyesuaian dengan mengembalikan porsi pembagian menuju rasio 60/40 yang lebih berfokus pada mesin pembakaran internal. Target akhir dari penyesuaian ini diproyeksikan rampung pada tahun 2028 mendatang, sementara Verstappen kini hanya bisa menunggu apakah perubahan tersebut benar-benar mampu mengatasi berbagai kendala teknis yang dikeluhkannya sepanjang musim ini.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!