Palembang , Nusantara Media – Kondisi jalan lintas kota Palembang menuju Kecamatan Banyuasin kembali menjadi sorotan tajam. Jalan sepanjang hampir 5 kilometer dari Simpang Selamat Datang Plaju hingga Jembatan Sungai Komering kini seperti “jalan maut” yang penuh lubang menganga dalam. Banyak pengendara roda dua mengaku trauma setiap melintas, apalagi di malam hari.


Menurut informasi yang beredar di lapangan, jalan tersebut diklaim sebagai aset Pertamina.

 Sepanjang ruas jalan terpasang plang besar yang menyatakan tanah dan aset tersebut milik perusahaan BUMN raksasa ini. Namun, ironisnya, tidak ada tanda-tanda pemeliharaan yang memadai dari Pertamina.

- Advertisement -


Warga dan pengguna jalan mengeluhkan bahwa jalan hanya ditambal tambal secara sporadis di titik-titik lubang saja. Tidak ada lapisan aspal baru selama bertahun-tahun. Kondisi semakin parah di ruas Pulau Layang mulai dari Jembatan Sungai Komering hingga Simpang Selamat Datang, di mana lubang-lubang dalam mengancam keselamatan pengendara.


Tak hanya lubang, penerangan jalan umum (PJU) di sepanjang kompleks perumahan Pertamina Plaju hingga Jembatan Komering banyak yang mati total. Malam hari, ruas ini gelap gulita, semakin meningkatkan risiko kecelakaan.
Jalan Tanpa Tuan di Sungai Rebo RK II


Masalah serupa juga terjadi di jalan desa Sungai Rebo RK II yang dulu menjadi akses keluar-masuk kendaraan Pertamina menuju Kilang Minyak Pertamina RU III Sungai Gerong. Kini jalan itu menjadi “jalan tanpa tuan”.


Pertamina disebut enggan memperbaiki karena sudah tidak lagi aktif menggunakan ruas tersebut, sementara pemerintah desa Sungai Rebo menolak bertanggung jawab dengan alasan jalan bukan aset desa. 

Akibatnya, masyarakat yang setiap hari melintas menjadi korban.
Pada Kamis, 1 April 2026,

Arman seorang warga yang rutin menggunakan jalan tersebut menyampaikan keluhannya

 
“Sudah sangat lama sekali jalan ini tidak dilapisi aspal baru. Yang ada hanya penambalan di lubang-lubang saja. Kami khawatir terjadi kecelakaan kapan saja, terutama bagi pengendara motor.”


Harapan Masyarakat yang Semakin Mendesak
Pengendara dan warga sekitar menuntut agar pemerintah (baik Pemkot Palembang, Pemkab Banyuasin, maupun Pemprov Sumsel) segera turun tangan. Mereka menekankan bahwa sebagai pembayar pajak kendaraan, mereka berhak mendapatkan akses jalan yang aman dan nyaman.


“Kami hanya ingin jalan ini segera diperbaiki. Jangan biarkan aset Pertamina yang diklaim itu justru membahayakan masyarakat. Kami beraktivitas setiap hari di jalan ini tanpa harus dihantui rasa takut kecelakaan,” tegas Arman salah seorang pengendara.


Kondisi ini semakin memprihatinkan karena jalan tersebut merupakan jalur penting yang menghubungkan kawasan industri Pertamina dengan pemukiman warga dan akses menuju Banyuasin.