Karier Daniel Ricciardo di ajang balap mobil paling bergengsi di dunia, Formula 1, harus berakhir lebih cepat sebelum tirai musim 2024 diturunkan sepenuhnya. Selepas Grand Prix Singapura 2024, kiprah pebalap asal Australia yang dikenal dengan senyum khasnya itu resmi usai, menyusul keputusan tim Racing Bulls untuk menyerahkan kursi kemudinya kepada pebalap muda berbakat asal Selandia Baru, Liam Lawson. Kehilangan tempat di grid utama meninggalkan luka mendalam bagi pebalap yang telah mengoleksi delapan kemenangan Grand Prix sepanjang kariernya di ajang jet darat tersebut.
Dalam siniar resmi Formula 1 berjudul Beyond The Grid, pebalap berjuluk Honey Badger tersebut secara terbuka mengenang masa-masa sulit pasca-kehilangan kursi balapnya. Ia mendeskripsikan fase tersebut sebagai pengalaman yang sangat menyakitkan dan penuh gejolak emosional. Kegagalan mempertahankan performa optimal di lintasan membuatnya sempat merasa telah mengecewakan banyak pihak, termasuk dirinya sendiri. Tekanan mental yang luar biasa besar harus ia pendam di balik penampilan publik yang tampak santai dan selalu ceria di paddock.
"Saya pikir saya memiliki perasaan telah gagal, bahwa saya tidak berhasil memberikan performa yang harus saya berikan," ungkap Daniel Ricciardo dalam siniar tersebut, menggambarkan beban psikologis yang ia pikul selama masa transisi yang pelik. Ia menambahkan, "Orang-orang melihat saya di depan publik. Saya bersenang-senang, menikmati minuman atau apapun itu, tetapi sebenarnya saya hanya bersembunyi dari apa yang saya rasakan jauh di dalam lubuk hati saya, yaitu banyak rasa sakit dan kesedihan." Pengakuan jujur ini menunjukkan sisi humanis seorang atlet papan atas yang harus berjuang memulihkan kondisi mentalnya setelah kehilangan identitas utamanya sebagai pebalap reguler.
Meskipun telah berdamai dengan kenyataan bahwa hari-harinya di paddock Formula 1 sebagai pebalap utama telah usai, hasrat untuk mencatatkan perpisahan yang layak di lintasan balap ternyata masih menyala di dalam dirinya. Dilansir dari Speedweek, peluang untuk melihat sang juara delapan seri balapan kembali mengenakan helm balap dan turun ke aspal sirkuit belum sepenuhnya tertutup. Ia menyadari ada sisi dalam dirinya yang mendambakan sebuah momen penutup karier balap profesional dengan cara yang ia inginkan sendiri, demi meraih kebahagiaan batin.
"Setahun yang lalu saya mungkin masih akan mengatakan bahwa saya tidak akan pernah mengenakan helm balap lagi, bahwa saya sudah selesai dengan semua itu. Pada saat yang sama, ada suara di dalam diri saya yang mengatakan bahwa saya ingin mengakhiri karier balap saya sesuai dengan keinginan saya sendiri. Ini tentang melakukan sesuatu yang membuat saya bahagia. Mungkin saya membutuhkan penutupan ini," jelasnya mengenai kemungkinan melakukan comeback di masa depan untuk sebuah ajang balap yang spesial.
Baca Juga Norris Sebut McLaren Jauh dari Cukup Baik Usai Sprint GP BelandaSalah satu ajang ketahanan paling ikonik di dunia yang kini menarik perhatian sang pebalap senior adalah balapan legendaris 24 Jam Le Mans. Ketertarikan ini muncul karena format balap ketahanan memungkinkan para pebalap berbagi satu kendaraan yang sama, membangun kerja sama tim yang erat, serta saling bertukar data secara intensif demi meraih hasil terbaik. Konsep berbagi kokpit dengan rekan setim dan merasakan atmosfer kamerasi sejati di garasi menjadi daya tarik tersendiri yang sangat ia rindukan dari dunia balap motor.
Ketika disinggung mengenai sosok rekan setim impian yang ia harapkan berada di dalam kokpit yang sama pada ajang balap ketahanan tersebut, pebalap yang pernah menjadi rekan setim Max Verstappen di skuad Red Bull Racing ini memberikan jawaban yang cukup menarik perhatian para penggemar motorsport global. Tanpa ragu, ia menempatkan mantan rival sekaligus rekan setimnya asal Belanda tersebut di urutan teratas daftar keinginan utamanya untuk berbagi kemudi di Le Mans.
"Saya tidak ingin memberikan tekanan, tetapi tentu saja Max berada di urutan teratas dalam daftar. Kami telah berbicara tentang bagaimana keadaannya di Red Bull Racing pada tahun 2018, dan saya telah mencoba untuk kembali ke tim menjelang akhir karier saya. Mungkin itu bisa menjadi cara untuk memberikan apa yang diinginkan oleh orang-orang," pungkas Daniel Ricciardo, menyisakan spekulasi menarik bagi masa depan dunia balap ketahanan internasional.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!